Lihat ke Halaman Asli

Rismayani Putri Utari

Semangat Pantang Mundur

Tingkat Kepuasan Konsumsi dalam Memenuhi Kebutuhan dan Keinginan

Diperbarui: 17 Februari 2019   09:04

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ekonomi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Caruizp

TINGKAT KEPUASAN KONSUMSI DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN DAN KEINGINAN

Di dalam teori ekonomi, kepuasan seseorang dalam mengkonsumsi suatu barang dinamakan Utility atau nilai guna. Kalau kepuasan terhadap suatu benda semakin tinggi, maka semakin tinggi pula nilai gunanya. Sebaliknya, bila kepuasan terhadap suatu benda semakin rendah maka semakin rendah pula nilai gunanya. Kepuasan dalam terminologi konvensional dimaknai dengan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan fisik.[1] 

Konsumsi pada dasarnya dibangun atas dua hal yaitu kebutuhan (hajat) dan kegunaan/kepuasan (manfaat). Karena secara raisional, seseorang tidak akan pernah mengkonsumsi suatu barang jika tidak membutuhkannya sekaligus mendapatkan manfaat darinya. Kepuasan dikenal dengan maslahah dengan pengertian terpenuhinya kebutuhan baik fisik maupun spiritual. 

Oleh karena itu, kepuasan seorang muslim tidak didasarkan banyak sedikitnya barang yang dikonsumsi, tetapi didasarkan atas berapa besar nilai ibadah yang didapatkan dari yang dikonsumsinya.[2]

Salah satu perbedaan mendasar antara sistem ekonomi konvensional dengan islam adalah menyoroti masalah need (kebutuhan) dengan want (keinginan). Secara umum dapat dibedakan antara kebutuhan dan keinginan, yakni kebutuhan itu berasal dari fitrah manusia, bersifat objektif, serta mendatangkan manfaat dan kemaslahatan disamping kepuasan. Pemenuhan terhadap kebutuhan akan memberikan manfaat, baik secara fisik, spiritual, intelektual maupun material. 

Sementara itu, keinginan berasal dari hasrat manusia yang bersifat subjektif. Bila keinginan itu terpenuhi, hasil yang diperoleh adalah dalam bentuk kepuasan atau manfaat psikis disamping manfaat lainnya.

Kebutuhan (need) manusia meliputi kebutuhan fisik dasar akan makanan, pakaian, keamanan, kebutuhan sosial, serta kebutuhan individu akan pengetahuan, dan suatu keinginan untuk mengekspresikan diri. 

Dari sifatnya, dalam pandangan ekonomi, kebutuhan (need) manusia itu terdiri dari kebutuhan-kebutuhan primer seperti pangan, sandang, dan papan, kebutuhan sekunder (pelengkap), dan kebutuhan tersier.

Kebutuhan (need) biasanya terkait dengan sesuatu yang harus dipenuhi agar sesuatu berfungsi secara sempurna. Need (kebutuhan) didefinisikan sebagai segala keperluan dasar manusia untuk kehidupannya. Dalam perspektif ekonomi islam, semua barang dan jasa yang membawa pengaruh pada kemslahatan disebut dengan kebutuhan manusia. Misalnya, makan makanan halal dan bergizi merupakan kebutuhan manusia agar tetap hidup sehat.[3]

Keinginan menurut ilmu ekonomi berhubungan dengan kebutuhan manusia ditambah dengan kemauan dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Oleh karena itu kebutuhan efektif (effective needs) yaitu kebutuhan yang bisa dipenuhi disebut keinginan. Kebutuhan dan kepuasan adalah inti dari perjuangan ekonomi manusia. Pada dasarnya harta kekayaan diperlukan untuk memuaskan keinginan-keinginan manusia.[4]

Keinginan (want) adalah sesuatu yang terkait dengan hasrat atau harapan seseorang, jika dipenuhi belum tentu meningkatkan kesempurnaan fungsi manusia ataupun sesuatu. Ia terkait dengan suka atau tidak sukanya seseorang terhadap suatu barang. Keinginan itu biasanya lebih bersifat subjektif, tidak bisa dibandingkan antar satu orang dengan yang lainnya.[5] 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline