Lihat ke Halaman Asli

Menjadi Perempuan, Lebih dari Seorang Istri dan Ibu

Diperbarui: 17 Juni 2015   19:47

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

“Bukan sekadar kebesaran nama atau kemegahan karya yang ia tinggalkan,
tapi keteladanannya untuk rela berkorban.”

Menjadi perempuan bukan hanya menjadi seorang ibu dan istri. Ia memiliki kapasitas lebih dari itu. Ia memiliki potensi yang besar untuk mengubah dunia. Seperti Rasulullah saw yang pernah bersabda bahwa “Jika Negara ibarat rumah, maka wanita adalah tiang penyangganya. Jika ingin Negara yang kokoh, maka kokohkanlah para wanitanya.” Hal ini terbukti ketika zaman Rasulullah saw dan para sahabat, banyak kita kenali banyak sosok wanita yang menginspirasi dan aktif berkiprah dalam mendakwahkan Islam. Sebut saja Khadijah ra, yang dikenal sebagai sosok saudagar wanita yang tegas dan pemurah, juga di satu sisi manjadi seorang istri yang lembut dan taat pada suaminya.  Fatimah, Aisyah, Ummu Salamah, Ummu Sulaim, Zainab, dan masih banyak teladan muslimah lainnya yang patut kita ambil hikmahnya hingga berabad-abad kemudian, harum kisahnya masih dapat kita nikmati hingga hari ini.

Maka  kita sepakati bersama bahwa menjadi aktivis muslimah adalah bagian dari kewajiban kita untuk menebarkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.  Lantas, pertanyaan berikutnya? Bagaimana membentuk diri menjadi seorang aktivis muslimah?


“Jika engkau mencari teladan, carilah pada mereka yang telah tiada.”

-Ibnu Abbas

Mari kita teladani dan telusuri kembali kisah kepahlawanan para pendahulu kita.

“Ilmu pengetahuan adalah hikmah—harta mukminin yang tercecer—maka, ambillah dimanapun ia berada.” Oleh karena itu, kita dapat mengambil hikmah, baik dari muslim ataupun nonmuslim selama terkandung kebaikan didalamnya. Namun, untuk qudwah hasanah haruslah muslimin yang sholeh yang menjadi teladan kita.

Memaknai ‘Aktivis’

Aktivis adalah kata lain untuk pejuang atau pahlawan yang pada dasarnya memiliki satu keutamaan, yakni memiliki otonomi (kebebasan) untuk melejitkan kapasitas atau potensi dirinya menjadi inspirasi melampui usia bahkan zamannya.

Mari kita belajar dari Khadijah ra. Khadijah ra pada zamannya memiliki kepiawaian dalam berbisnis dalam lingkup global (A Global Business Woman). Dan, ketika ia menikahpun, ia tetap dapat berkiprah dengan baik sebagai seorang istri maupun ibu. Tentunya ini adalah sebuah karakter yang dibentuk hingga turun temurun. Riwayat keluarga Khadijah, ia berasal dari keluarga Quraisy yang memiliki nasab lurus dari keluarga Imran. Keluarga yang menjadi keluarga teladan yang Allah abadikan dalam salah satu nama surat dalam Al Quran. Selama 1300 tahun, keluarga ini berhasil untuk mengelola kebaikan dan meneruskannya dari generasi ke generasi. Secara sainspun hal ini terbukti, bahwa sel dalam tubuh yang bernama mitokondria dapat dicopy ke keturunan. Mitokondria ini terdapat dalam darah yang terpengaruh dari kebiasaan kita sehari-hari.

Tiga karakter wanita keluarga Imran yang diwariskan dari generasi ke generasi, yaitu

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline