Lihat ke Halaman Asli

Wonderful Gandrung Sewu 2018 Ramaikan Pantai Boom

Diperbarui: 23 Oktober 2018   17:35

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokpri

You have to taste a culture to understand it. -Deborah Cater

Festival Gandrung Sewu 2018 di Pantai Boom, Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (20/10/2018) dimeriahkan oleh sebanyak 1.173 penari gandrung. Mereka menampilkan tari kolosal bertema Layar Kumendung, yang diambil dari lirik syair gending Gandrung Banyuwangi. Total sebanyak 1.301 orang mulai dari penari gandrung, penari hadrah kuntulan, pemain musik dan pesinden yang terlibat dalam pagelaran yang sudah masuk ke tahun ke 8 itu. Para penari berasal dari pelajar mulai dari tingkat SD hingga mahasisawa. Para pemain gamelan dan pesinden juga di dominasi oleh para pelajar dan anak muda. 

Layar Kumendung, yang menjadi tema Gandrung Sewu tahun ini menceritakan Mas Alit, bupati Banyuwangi pertama yang gugur dalam pelayaran menuju Semarang saat memenuhi undanggan dari petinggi Belanda. Kematian Mas Alit membawa kesedihan luar biasa bagi masyarakat Banyuwangi. Setiap tahun tema festival yang diusung ini berbeda-beda dan diambil dari syair-syair gending Gandrung Banyuwangi.

Jika menilik sejarah, kata "Gandrung" diartikan sebagai terpesonanya masyarakat Blambangan yang agraris kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat. 

Tarian Gandrung Banyuwangi dibawakan sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat setiap habis panen. Kesenian ini masih satu genre dengan Ketuk Tilu di Jawaa Barat,Tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, Lengger di wilayah Banyumas dan Joged Bumbung di Bali, dengan melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik gamelan.

Gandrung merupakan seni pertunjukan yang disajikan dengan iringan musik khas yaitu gamelan osing. Tarian dilakukan dalam bentuk berpasangan antara perempuan (penari gandrung) dan laki-laki (pemaju) yang dikenal dengan "paju".

Bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur PulauJawa, dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan gandrung. Kenyataannya, Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung dan patung penari gandrung dapat dijumpai di berbagai sudut wilayah Banyuwangi.

Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya. Menurut kebiasaan, pertunjukan lengkapnya dimulai sejak sekitar pukul 21.00 dan berakhir hingga menjelang subuh (sekitar pukul 04.00).

Kesenian gandrung Banyuwangi muncul bersamaan dengan dibabadnya hutan "Tirtagondo" (Tirta arum) untuk membangun ibu kota Balambangan pengganti Pangpang (Ulu Pangpang) atas prakarsa Mas Alit yang dilantik sebagai bupati pada tanggal 2 Februari 1774 di Ulupangpang Demikian antara lain yang diceritakan oleh para sesepuh Banyuwangi tempo dulu. 

Berkat munculnya gandrung yang dimanfaatkan sebagai alat perjuang dan yang setiap saat acap kali mengadakan pagelaran dengan mendatangi tempat-tempat yang dihuni oleh sisa-sisa rakyat yang hidup bercerai-berai di pedesaan, di pedalaman dan bahkan sampai yang masih menetap di hutan-hutan dengan keadaannya yang memprihatinkan, kemudian mereka mau kembali kekampung halamannya semula untuk memulai membentuk kehidupan baru atau sebagaian dari mereka ikut membabat hutan Tirta Arum yang kemudian tinggal di ibukota yang baru di bangun atas prakarsa Mas Alit.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline