Lihat ke Halaman Asli

Muhamad Baqir Al Ridhawi

Lagi belajar nulis setiap hari.

Memilih, Mencari, dan Mendapatkan Pekerjaan serta Keribetannya

Diperbarui: 14 Februari 2021   11:11

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

Apakah kalian mengira kalau memilih, mencari dan mendapatkan pekerjaan itu hal mudah?

Kalau aku tidak perlu mengira, aku sudah mengalami. Dan buatku itu tidak mudah. Semoga kalian lebih beruntung, lebih mudah. Tidak sepertiku.

Memilih, mencari dan mendapatkan pekerjaan bagiku ribet, ruwet dan pakai banget. Kenapa bisa begitu? Akan kujelaskan konkretnya nanti---tapi memang agak panjang (mungkin malah sangat menurutmu)---biar kalian tahu ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan olehku. Ya, olehku, buat kalian tentu berbeda. Namun semoga saja kalian bisa bercermin dari tulisanku. Siapa tahu ada yang terbantu. Ya, si-a-pa ta-hu kan.

Alkisah dimulai dari ... sini sajalah:

Beberapa hari lalu aku melaksanakan interview kerja. Sesudah itu banyak pertanyaan yang bermunculan di kepalaku. Itu membikinku bingung dan ragu untuk melanjutkan.

Untungnya, aku punya teman yang bisa ditanyai perihal ini. Walau tidak dekat, dan baru kenal---kenal dari komunitas---aku tidak ragu untuk bertanya. Karena bagiku ini genting (lebay memang tapi perasaanku waktu itu begitu) jika tidak kutanyakan aku bisa overthinking, memenuhi kepalaku dengan asumsi-asumsi tidak jelas, dan mungkin jadi susah tidur.

Ohya, aku bertanya ke temanku yang adalah seorang ibu guru di SD swasta---aku tidak sebutkan namanya, karena aku belum izin---melalui WhatsApp.

Sebelum itu, aku beri pendahuluan berupa cerita, bahwasanya aku mempunyai Bu Lik, atau tante yang bekerja sebagai guru di TK Swasta. Namun penghasilannya itu---cukup mencengangkan buatku saat aku pertama kali dengar---hanya 400 ribu per bulan. Dan barusan aku interview kerja untuk posisi Tenaga Administrasi di SD Swasta. Dan kata orang yang mewawancaraiku, gajinya itu tidak sampai 800 ribu.

Tetapi saat aku ditanyai mau atau tidak, aku berani menjawab mau. Karena aku berpikir, mungkin kerjaannya santai, dan kalau begitu, aku tak masalah dengan gaji segitu.

Lalu pertanyaanku kepadanya: apakah memang gaji orang yang kerja di instansi pendidikan swasta itu biasanya segitu (alias kecil)?

Karena tidak mungkin, kalau aku tanya gaji dia secara langsung. Pasti dianggap tidak sopan, bukan? Meski agaknya aku pingin ke arah sana langsung. Biar langsung terang benderang.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline