Lihat ke Halaman Asli

Rida Meylasari

Mahasiswa Hubungan Internasional UPNVY

P2P Diplomacy: Pemuda Juga Bisa Jadi "Diplomat"

Diperbarui: 22 Mei 2022   12:10

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gambar: https://www.instagram.com/p/B3Gazsqh9OK/

Diplomasi sering diartikan sebagai hubungan resmi antara dua atau lebih negara. Menjadi wajar apabila hal ini sering dianggap hanya bisa dilakukan oleh pejabat pemerintahan, khususnya Kementerian Luar Negeri. Padahal, diplomasi dalam perkembangannya juga telah melibatkan aktor-aktor non-negara. Hal ini juga berarti bahwa masyarakat umum pun bisa berperan dalam diplomasi.

Diplomasi yang melibatkan masyarakat umum dikenal sebagai diplomasi publik. Biasanya, diplomasi publik dibedakan dengan diplomasi tradisional dari perbedaan instrumen yang digunakan, yaitu hard power dan soft power. Diplomasi tradisional cenderung menggunakan hard power yang sering berkaitan dengan kekuatan militer, di mana hal ini terkadang justru menimbulkan ketidakpercayaan, ketakutan, hingga kebencian. Sebaliknya, diplomasi publik erat kaitannya dengan penggunaan instrumen soft power yang meliputi hal-hal seperti kebudayaan dan pendidikan yang dapat menimbulkan rasa saling menghormati hingga ketertarikan.

Diplomasi publik pada dasarnya memiliki tujuan untuk memengaruhi masyarakat negara lain. Jika dilihat dari aktornya, diplomasi publik bisa dibedakan menjadi Government-to-People (G2P) dan People-to-People (P2P). Jenis diplomasi P2P berarti bahwa masyarakat umum dapat berperan dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat luar tentang nilai-nilai di dalam negerinya. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk melalui program pertukaran yang sering melibatkan pemuda.

Pengalaman diplomasi publik melalui program pertukaran ini pernah dirasakan secara langsung oleh Puspa Melati Citra Darmawan, mahasiswi jurusan ilmu hubungan internasional Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Melati mengikuti program Global Volunteer oleh organisasi kepemudaan AIESEC pada tanggal 5 Januari sampai dengan 16 Februari 2020 di Banská Bystrica, Slovakia. Program ini bertajuk Educate Slovakia yang bertujuan untuk memberikan edukasi kepada anak-anak dan menambahkan minat mereka pada masalah dunia serta budaya dari berbagai negara. Hal ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) nomor 4, yaitu Pendidikan Bermutu.

Selama mengikuti program tersebut, Melati berkesempatan untuk memperkenalkan bahasa, makanan, tari-tarian, tempat-tempat wisata, dan kebudayaan Indonesia. Program tersebut juga mencakup rangkaian acara Global Village yang dimanfaatkan dengan baik oleh Melati sebagai sarana diplomasi publik.

“Dari AIESEC sendiri juga mengadakan Global Village, yaitu saling bertukar dan memperkenalkan kebudayaan. Kami dari Indonesia memperkenalkan makanan Indonesia, souvenir dari Indonesia, dan lagu-lagu tradisional dari Indonesia,” ujar Melati.

Menariknya lagi, diplomasi publik sebenarnya juga dapat dilakukan tanpa harus pergi ke luar negeri. Hal ini dialami oleh Hilma Khairunnisa yang juga merupakan mahasiswi jurusan ilmu hubungan internasional Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Hilma menceritakan pengalamannya saat menjadi liaison officer (LO) pada program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) atau Indonesian Arts and Culture Scholarship (IACS) 2019. BSBI merupakan program Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia yang telah dilaksanakan sejak tahun 2003. Bekerja sama dengan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, program ini melibatkan peran mahasiswa dalam penyelenggaraannya. Tujuan BSBI sendiri yaitu memperkenalkan ragam identitas dan kepribadian bangsa Indonesia yang khas, seperti sikap menghargai keberagaman atau kebhinnekaan, kekeluargaan, kesantunan, toleransi dan keterbukaan kepada generasi muda negara-negara sahabat Indonesia.

BSBI 2019 mengusung tema Mosaic of Indonesia. Saat itu, Hilma merupakan anggota aktif Kelompok Studi Mahasiswa International Community Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Sebagai LO, Hilma banyak berinteraksi langsung dengan peserta BSBI. Hilma mendampingi peserta BSBI dalam berbagai kegiatan, termasuk mempelajari bahasa Indonesia, seni budaya dan keharmonisan dalam keanekaragaman, kegiatan sosial, serta kearifan lokal.

“Kegiatan BSBI ini mencakup pelatihan yang berkaitan dengan adat Jawa seperti tari tradisional, musik gamelan, teater, pembuatan batik, pemotretan menggunakan pakaian adat Jawa, pengenalan berbagai tempat wisata di Yogyakarta, dan yang utama yaitu belajar bahasa Indonesia,” ujar Hilma.

Kedua contoh di atas merupakan bukti bahwa pemuda dapat berperan sebagai aktor penggerak diplomasi. Meskipun bukan merupakan diplomat resmi yang ditunjuk oleh negara, hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi pemuda untuk ikut berperan aktif dalam diplomasi Indonesia. Dengan berinteraksi secara langsung dengan masyarakat luar negeri, pemuda memiliki peran yang penting dalam membangun citra yang baik bagi Indonesia.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline