Lihat ke Halaman Asli

Mengenali Cara Berpikir Kita

Diperbarui: 25 Juni 2015   04:22

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Mungkin anda pernah mendengar kalimat “yang membedakan orang sukses dan orang gagal itu adalah cara berpikirnya”, saya termasuk orang yang sangat setuju dengan kalimat bijak tersebut. Karena memang begitulah kenyataan yang saya lihat dan rasakan.

Merubah “cara berpikir  alias mindset“  ini sangatlah tidak gampang, butuh waktu dan pemahaman yang luar biasa mendalam dan kepekaan terhadap semua hal yang terjadi disekitar kita.

Contoh kasus, saya mempunyai seorang sahabat perempuan yang penampilan fisik lumayan, hanya saja memang gigi nya sangat berantakan, hal ini tentu saja mengurangi nilai-nilai lebih sahabat saya ini dimata pria yang dikenalnya, sehingga pada usia yg tergolong matang, sahabat saya ini masih saja jomblo, padahal menurut saya seandainya saja dia mau sedikit repot untuk bolak-balik ke dokter gigi untuk merapikan gigi, tentunya penampilannya akan jauh lebih baik dan mungkin saja ada pria yang tertarik untuk membina hubungan dengannya. Sahabat saya itu berasal dari keluarga sederhana, namun dia tergolong berpenghasilan mandiri dan telah sanggup membeli sepeda motor. Saya tau dia berat untuk memperbaiki giginya karena terbentur masalah biaya yang lumayan besar menurut ukuran dia.

JIKA saja saya adalah dia, saya akan jual atau gadaikan motor saya itu demi untuk memperbaiki gigi saya yg berantakan. Why? Karena penampilan bagi wanita itu sangat penting, walaupun bukan segalanya. Gigi dan senyum yang indah memberikan banyak nilai lebih dan kepercayaan diri. Namun sahabat saya tadi mungkin lebih sayang pada motornya daripada memperbaiki giginya yang berantakan.

Apakah pemikiran sahabat saya itu salah? Jawabnya adalah Tidak. Lalu apakah pemikiran saya utk menjual atau gadaikan motor demi untuk gigi adalah salah? Menurut saya juga tidak salah.

Contoh kasus diatas hanyalah satu dari sekian banyak contoh bahwa banyak “cara berpikir” yang berbeda yang kita temui dikehidupan kita. Adalah sangat penting untuk mengetahui mana yang prioritas dan mana yang bukan sehingga kita bisa mengambil keputusan akhir yang bijaksana dalam semua hal.

Contoh kasus lainnya. Seorang sahabat saya memutuskan untuk membantu sekarung beras setiap bulan kepada kedua pamannya. Hal itu tentulah hal yang baik dan saya rasa semua orangpun akan setuju hal itu. Namun JIKA saya adalah dia, saya tidak mau membantu beras kepada kedua paman itu. Why? Karena saya tau persis kedua pamannya masih berbadan sehat walafiat dan berusia masih 40 an yang menurut saya masih tergolong muda. Menurut saya, kedua pamannya itu hanya pemalas dan tidak mau berusaha sekuat tenaga untuk menafkahi keluarganya, lha wong kerjaannya Cuma makan tidur thok, ngapain dibantu beras?

Apakah pemikiran sahabat saya untuk member beras itu salah?? Jawabnya adalah Tidak salah. Lalu apakah pemikiran saya tidak memberikan beras adalah salah? Menurut saya tidak salah. Bagaimana menurut anda?

Banyak dari kita tidak menyadari ketika kita melakukan kesalahan, beruntunglah orang-orang yang tau kesalahan yang dia buat sehingga dia tau cara memperbaikinya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali tidak peka terhadap banyak hal-hal yang kita anggap sepele. Padahal, jika saja anda lebih peka, maka anda akan menjadi orang yang lebih baik dan lebih bahagia daripada sebelumnya.

Contoh kasus, kakak perempuan dari sahabat saya bulan lalu menikah. Sahabat saya ini memegang kamera pocket dan sibuk memotret sana sini untuk mengabadikan kebahagiaan dengan keluarga-keluarga lain yang datang dari luar kota.

Setelah saya melihat hasil jepretannya, saya bertanya kepadanya, mengapa semua photo-photo itu hanya menampakan orang-orang dari keluarganya sendiri saja? Mengapa tidak ada photo dari saudara-saudara dari kakak iparnya (suami dari kakak perempuannya itu)? Sahabat saya itu hanya tertegun tidak paham dengan arah pertanyaan saya, dan saya pun menjelaskan kepadanya pemikiran simple dan sepele saya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline