Lihat ke Halaman Asli

YUSRIANA SIREGAR PAHU

TERVERIFIKASI

GURU BAHASA INDONESIA DI MTSN KOTA PADANG PANJANG

Lukaku untuk Kedua, Ketiga, Keempat, Kelima Kalinya untuk Pram

Diperbarui: 14 Januari 2023   00:20

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi hati yang terluka: hipwee

Penyesalanku kembali menguakkan luka kala kakiku menapak di kampung halaman. Konsekuensi yang kutuai berupa penyesalan dan rasa bersalah meninggalkan Pram dengan air mata di mata coklatnya belum berakhir.

Pertama, saat aku turun dari bus yang membawaku dari kota, berhenti pas di depan rumah keluarga Pram. Rumah itu masih sama seperti rumah tiga tahun lalu. Kecil dan berdinding papan.

Mungkin hanya sebesar dan seluas ruang tengah di rumah keluargaku. Tak bisa mengelak, saat turun dari bus Mak si Pram yang aku panggil namboru atau bou sedang duduk di dekat pintu utama rumahnya.

Dulu aku sering duduk di situ bersama Pram. Kami menghitung jumlah mobil yang lewat. Ketika jumlah hitungan kami tak sama, kami pun tertawa berderai. Mata coklat Pram berbinar diiringi senyumnya yang tulus. Sebatas itu yang kupahami. Aku suka itu.

Kedua, ketika aku mendekati Bou (saudari perempuan ayah), saliman, dan bercengkrama sesaat, dari beliaulah aku dapati kabar bahwa Pram sakit. Sudah tiga tahun sakit. Bukankah perpisahan kami terjadi tiga tahun juga?

Duh, bisakah sakit karena kami putus? Atau karena aku tak mengabulkan keinginan Pram menikah dini? Sedalam itukah perasaan Pram padaku. Tak sadarkah dia bahwa kami baru tamat sekolah dasar.

Benar, ketika kami putus, aku baru duduk di kelas 2 SMP semester 2 dan sekarang aku duduk di semester 2 kelas 2 SMA. Selama itu pula aku tak pernah pulang ke kampung. Ayah dan Maklah yang mengunjungiku ke kota.

Sejak kata putus keluar dari mulutku, Pram tak pernah datang lagi. Akupun tenggelam dengan kegiatanku membaca novel-novel favoritku. Di selingi kegiatan lomba baca puisi dan pidato.

Di kota aku selalu merasa kekurangan waktu. Dari pagi hingga siang sekolah. Sepulang sekolah latihan puisi atau pidato. Kadang ikut pula paduan suara jika akan ada upacara di lapangan. Semisal 17 Agustusan.

Sore hingga malam bikin PR. Waktu membaca novel pun harus disiasati. Sudah dua kali novelku disita guru karena ketahuan mencuri baca sedang belajar.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline