Lihat ke Halaman Asli

Bekal Makanan dari Malaikat

Diperbarui: 23 Februari 2017   18:21

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Dibandingkan teman-temanku, mungkin aku yang paling hobi menghiraukan perkataan ibuku. Terkadang muncul pemikiran yang aku akui memang jahat. Bukan, bukan pemikiran sejahat aku ingin ibuku "pergi", hanya saja aku ibuku diam. Karena ibuku terlalu mengurusi kehidupanku. Berkomentar A-Z, mengingatkan ini itu, bawel sekali. Selalu menganggap aku anak kecil yang harus selalu diurus.

Waktu menunjukkan pukul 12 siang. Aku melihat ke dalam tas kerjaku, lagi-lagi ibuku memasukkan bekal makanan buatannya ke dalam tasku. Aku tak membukanya, kudiamkan saja. Nanti kuberikan ke Pak Darwis saja, OB kantorku, pikirku demikian. Aku keluar kantor untuk membeli soto kesukaanku. Ketika melewati sebuah taman dekat kantor, aku melihat seorang pria yang sedang duduk di salah satu bangku taman, tepat di bawah pepohonan. Wajahnya sangat muram. Aku memberanikan diri untuk bertanya.

Ia bercerita bahwa sudah hampir 3 tahun ibunya sakit, koma dan tak sadarkan diri. Ia punya semua yang mungkin orang lain inginkan. Mobil mewah, rumah megah, perusahaan dengan omset puluhan milyar rupiah per tahun, namun keinginan sederhananya tidak kunjung terkabul. Ia ikhlas jika memang Tuhan harus mengambil nyawa ibunya, tapi ia ingin sekali lagi saja melihat ibunya bergerak, meski hanya sekedar satu jari tangan atau menyebut namanya untuk yang terakhir kali.

Melihatnya membuatku terenyuh. Aku hanya bisa memberinya kata-kata penyemangat dan doa agar ibundanya cepat membaik. Setelah kami mengobrol beberapa menit, ia pamit untuk kembali ke kantornya. Air wajahnya terlihat membaik, setidaknya tidak semuram tadi.

Aku termenung. Kini aku duduk persis di bangku tempat pria tadi. Tertegun berpikir, "Apa yang selama ini kulakukan?". Aku memiliki ibu yang masih sangat sehat untuk bergerak dan berbicara, mengingatkan ini itu. Bawelnya tidak lain dan tidak bukan adalah demi kebaikanku. Kuputar lagi memoriku ke belakang, iya benar, tidak ada satupun nasihat baik yang kusebut dengan "bawel" itu yang tidak bermanfaat. Aku yang selalu mengizinkan ego untuk mengambil alih diriku, menolak mentah-mentah kebaikan itu.

Sementara pria tadi, jangankan "bawel" ibundanya, bahkan satu gerakan kecil jemari ibundanyapun kini ia nantikan selama 3 tahun terakhir. Ya, kembali ke pepatah lama bahwa seringkali kita tidak menghargai jika sesuatu atau seseorang itu ada untuk kita. Dan baru akan mulai menyadarinya jika sesuatu atau seseorang itu telah pergi dari hidup kita. 

Aku panggil Pak Darwis, OB kantorku, dan kuberikan kepadanya soto yang tadi kubeli di luar. Pak Darwis terlihat sangat senang seraya berkata, "Makasih ya mas karena setiap hari memberikan saya makanan. Sebenarnya saya bingung kenapa selalu membeli makanan di luar padahal mas membawa bekal seenak ini dari rumah.". Entah apakah Pak Darwis mengucapkannya dengan tujuan sarkasme atau tidak, yang jelas pertanyaan tersebut menampar kencang-kencang pipiku.

Tak lama kemudian ponselku berbunyi, aku melihat sebuah pesan singkat dari ibuku, "Bagaimana bekal buatan ibu hari ini? Mudah-mudahan kau suka. Hehe".

Langsung kubuka bekal makanan dari ibuku yang ternyata isinya adalah soto, tak sadar air mataku mengalir dari kedua mataku. Kumakan dengan lahap bekal makanan itu, sampai-sampai aku lupa apakah tadi sudah mengucapkan doa sebelum makan. Tak kusisakan barang sedikit bekal hari itu. Ini makanan terenak yang pernah ku makan sejak beberapa waktu terakhir. Aku sendiri lupa kapan terakhir kali aku makan masakan ibuku.

Aku ingin hari ini cepat berlalu. Tak sabar aku menunggu bekal buatan ibuku untuk besok.

Bekal dengan bungkusan sederhana, namun menciptakan kebahagiaan yang sangat tidak sederhana.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline