Lihat ke Halaman Asli

Rahma Ahmad

Travel Blogger

Dari Kampuang Sarugo hingga Desa Arborek, Begini Cerita tentang Anak Muda dan Desa Wisata

Diperbarui: 12 November 2022   17:01

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Mengunjungi belasan desa wisata, mulai Kampung Sarugo di barat Indonesia hingga Desa Arborek di timur Indonesia, saya menemukan cerita betapa desa-desa indah ini meningkat ekonominya sejak menjadi desa wisata.   

Semilir angin dari perbukitan yang membawa bau harum rempah khas masakan Minangkabau menyambut kedatangan saya di kampung ini, sebuah kampung yang namanya baru mencuat di kalangan wisatawan Indonesia. 

Mata saya langsung menyapu sekitar. Tepat di depan saya, berbaris rapi tiga puluh rumah gadang, menghampar di tengah persawahan hijau dan perkebunan jeruk. Dindingnya terbuat dari kayu dan anyaman bambu yang disusun bersilangan, atapnya terbuat dari seng berbentuk runcing seperti tanduk kerbau. 

Inilah yang saya cari-cari di Minangkabau. Sebuah desa yang masih memertahankan adatnya, masih memertahankan rumah gadangnya. Inilah Kampuang Sarugo alias Saribu Gonjong, sebuah kampung yang ada di Nagari Kota Tinggi, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat.

Seorang pemuda gagah menyambut saya. Ia mengulurkan tangannya yang terbakar matahari perkebunan sambil berkata ramah, “Salamaik datang ke Kampung Sarugo. Baa kaba?” 

Pemuda bernama richie yang ternyata ketua Pokdarwis Kampung Sarugo kemudian mengajak saya berkeliling kampung. “Karena atap gonjongnya banyak, jadilah dikatakan seribu,” begitu penjelasannya ketika saya bertanya asal usul nama Sarugo.

Adat yang Masih Dipertahankan

Salah satu homestay di Sarugo. (Foto: dok. pribadi)

Sambil menanjak di jalan setapak yang masih alami, saya melihat sekeliling sambil mengagumi setiap rumah berbentuk rumah panggung yang masih berdiri dengan kokohnya. Ternyata, rumah gadang ini dibangun sejak 100 tahun lalu, terbukti dengan adanya tulisan tahun "1920" di beberapa kuda-kuda atap rumah. Bahkan menurut Datuk Rajo, sebenarnya kampung ini sudah berdiri jauh sebelum itu, namun sempat habis karena ada bencana kebakaran. 

Di tiap rumah ada setidaknya 5 atap tanduk (gonjong), yang menurut Datuk menandakan rukun haji.  Namun ada pula yang mengatakan jumlah atap ini menandakan kedudukan pemilik rumah dalam struktur adat Minangkabau; makin banyak tanduk, makin tinggi tingkatannya.

Uniknya, rumah ini semuanya menghadap ke arah kiblat. Hal ini didasarkan pada "Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah" falsafah Minangkabau yang memang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari mereka. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline