Lihat ke Halaman Asli

Rahmad Sholehuddin

Pecinta Kopi

Cerpen | Sungguh, Adakah yang Segila Aku?

Diperbarui: 7 April 2020   10:10

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Malam ini, ditemani suara angin sepoi-sepoi aku seruput kopi hitam yang begitu ikhlas untuk dinikmati aromanya. Ketika racikan kopi dari penjaga kedai itu aku teguk, Zain menyapaku dengan gayanya yang khas.

"Hei, ke mana saja kau Rama. Teman-teman menanyakan keberadaanmu. Tidak seperti biasanya kamu tiba-tiba menghilang begini. Lagi ada masalah ya?" ujarnya.

Begitu mudahnya Zain menebak perasaanku yang saat ini sedang berkecamuk dengan sangat hebatnya. Dalam hati aku bergumam, wajar saja. kan dia sudah sangat lama bersahabat denganku. Dia tau semua tentangku begitu juga sebaliknya, akupun tau semua tentangnya.

Beberapa minggu belakangan ini emosiku sangat berantakan sekali, serasa dunia telah berhenti berputar dan rasanya ingin kutahan laju waktu, supaya matahari tidak lekas terbit seperti biasanya. Bagaimana mungkin aku siap bertemu pagi jika harus melihat Rizka menjalin asmara dengan pria lain di kantor, sementara aku sangat mencintainya.

Rizka sosok wanita berusia 25 tahun, dengan hidung bangir, pipi merona dan wajahnya yang flamboyan itu selalu melempar senyum hangat kepadaku tiap kali bertemu dikantor.

Tak cukup di situ, dia juga memiliki sikap keibu-ibuan yang jarang dimiliki wanita lain, sehingga akupun dibuat melayang ke awan olehnya. Jangan tanya padaku darimana perasaan ini mekar dalam hati, karna aku sendiri tak bisa menjawabnya.

Sebenarnya sudah lama aku mengagumi wanita itu, tapi tidak mungkin aku utarakan perasaan ini kepadanya, Tidak mungkin pula aku menghianati kepercayaan istri dan anak semata wayang yang aku tinggalkan di Desa. Tapi aku juga tak sanggup membendung perasaan yang begitu menggelora dalam dadaku. Oh, Tuhan bagaimana ini?  tolong beri aku jalan keluar.

Sungguh aku seperti mayat hidup, ketika mendengar Rizka telah menjadi milik pria lain dan pria itu adalah atasanku dikantor.

"Zain, kamu pernah merasa dunia dan seisinya tak lagi berarti? Dan kamu hanya butuh satu orang saja dalam hidupmu, saat ini juga, detik ini juga?" tanyaku.

"Pernah, dulu waktu aku masih kuliah," jawab Zain, kepulan asap keluar dari mulutnya yang dia hisap dari rokoknya.

Waktu itu (saat Rizka masih dekat denganku dan dia masih belum milik siapa-siapa). Aku galau tingkat dewa, bagaikan buah simalakama. Kalau aku makan buah itu aku mati akibat racunnya dan jika tidak ku makan, matilah aku karna kelaparan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline