Lihat ke Halaman Asli

Baku Beking Pande, Falsafah Tou Manado

Diperbarui: 26 Juni 2015   12:01

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Baku Beking Pande (Pandai) bagi Tou (Orang) Manado asal Minahasa, bermakna kecerdasan jiwa yang berunsur daya cipta dan kearifan, ta’as agar sanggup menjalani kehidupan yang penuh tantangan secara unggul. Artinya, Baku Beking Pande bagi Tou Manado tak lain merupakan ikhtiar luhur guna mewujudkan kembali kejayaan Ke-Minahasaan.

Hal tersebut adalah syarat terwujudnya hakikat diri Tou Manado, yakni manusia dengan keunggulan dalam keseluruhan aspek dirinya. Manusia paripurna, The Totally Tou Manado. Karena pande menjadi dasar dan sumber pencapaian aspek-aspek lain secara menyeluruh.

Beking pande merupakan krida utama dan selamanya bagi Tou Manado, dimana kreativitas dan kearifan adalah daya dan mentalitas unggul yang dibuahkan dari kesadaran sosialitas yang tinggi. Pande terbentuk melalui usaha sadar proses belajar pada saat, dan untuk mengatasi permasalahannya yang berpangkal dari sikap kepedulian manusia terhadap lingkungannya termasuk sesamanya.

Beking pande atau pencerdasan jiwa paripurna merupakan proses yang berlangsung terus-menerus dan sekaligus antara beking pande diri sendiri dan beking pande orang lain. Krida beking pande merupakan modus keberadaan yang hakiki manusia Manado.

Beking pande orang lain atau yang ketika dijalankan pula oleh individu lainnya segera mewujudkan situasi saling mencerdaskan jiwa paripurna antara sesama – “Baku Beking Pande”, adalah ungkapan nyata dari tanggung jawab sosial yang sesuai dengan sifat dasarnya. Mencerdaskan adalah aktivitas yang didorong oleh dasar kecerdasan itu, yakni kesadaran sosialitas dan sekaligus disifati oleh kecerdasan itu.

Dalam suatu periode sejarah masyarakat Manado – Minahasa di masa silam, faktor pande dan baku beking pande telah hadir berperan secara sangat monumental.

Bermula dari sifat pande dalam diri para penduduk Manado – Minahasa sendiri, sehingga membuat mereka sangat mudah menyerap ilmu pengetahuan yang di transformasikan oleh pendatang dari Eropa yang berlangsung selama 3 (tiga) abad.

Masyarakat Manado – Minahasa sangat tinggi tingkat apresiasinya terhadap ilmu pengetahuan maupun krida belajar pada umumnya. Selanjutnya adalah faktor pande pada diri para pemimpin masyarakat, para tona’as dan walian yang dengan kesadaran serta antusiasme yang sangat tinggi mendorong masyarakat keseluruhannya untuk melangsungkan gerakan besar-besaran Sumikolah, yakni suatu proses formal transformasi ilmu pengetahuan.

Para Walak tampil memfasilitasi pembangunan sekolah-sekolah disamping para pemimpin masyarakat menanggung biaya persekolahan para murid yang kurang mampu. Dengan demikian maka Manado – Minahasa menjadi daerah dengan tingkat pemerataan pembangunan bidang pendidikan termaju dan menjadi daerah dengan tingkat buta aksara paling rendah di Indonesia.

Dalam kosa kata bahasa Tonsea – Minahasa, telah berkembang kata Mareraean, yaitu sikap dan tindak dalam interaksi sosial yang saling beking pande. Suatu ungkapan yang hadir harapan kultural bagi lahirnya masyarakat yang terdiri dari orang-orang pandai.

Baku Beking Pande merupakan proses sosial yang paling tepat dalam upaya manusia dan masyarakat Manado – Minahasa memenuhi kembali daya-daya dan mentalitasnya yang asali. Mengembalikan daya cipta atau kreativitasnya, menumbuhkembangkan sifat kearifan yang di zaman dahulu telah membekali leluhur Tou Manado asal Minahasa menjalani kehidupan yang penuh diwarnai tahap-tahap keberhasilan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline