Lihat ke Halaman Asli

Orang Muda Claretian dalam Bengkel si Pandai Besi

Diperbarui: 26 Februari 2020   21:38

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

http://www.ihmpclaretqc.com/2017/09/04/called-challenged-and-sent-aeyg-2017-cf-in-indonesia/

Pengalaman tanur ibaratnya seperti kita mendaki sebuah gunung, butuh kemauan, ada komitmen, dan penuh risiko. Bila kita telah tiba di puncak, kita akan mengalami pengalaman ketakjuban akan pemandangan yang sungguh membahagiakan. Setelah itu kita akan siap turun kembali dan mengisahkannya pada orang lain.

Hampir luput dari kesadaranku, bahwasannya lokasi pekan AEYG di Hotel Kana rupanya berada tepat di bawah kaki Merapi. Tak heran jika cuacanya amat dingin. Di balik cuaca yang mendingin tersebut, rupanya keindahan dan kegagahan Merapi tak dapat dibatasi ataupun dihalangi oleh benda apapun dari penglihatan mata.

Bengkel si pandai besi merupakan ruang, atau jika tidak berlebihan, jalan yang mengarahkan pandangan saya dan Orang Muda Claretian khususnya untuk memandang Allah. Ibaratnya seorang yang berusaha menyoroti sebuah patung dengan sorotan cahaya lampu sorot. Bukan keindahan lampu sorot ataupun cahaya lampu sorot itulah yang menjadi tujuan, melainkan keindahan patung itulah yang menjadi tujuan.

Hampir tiga tahun mereka telah kembali ke negara masing-masing, tetapi kisah yang terlanjur dirajut tetap menggema. Yah, mereka adalah anak muda yang datang ke bumiku untuk mengikuti pekan AEYG 2017+CF. Mereka berasal dari Korea, Filipina, Taiwan, Timor Leste, dari Kupang dan Medan-Sumatera. Bagiku ini adalah pengalaman yang langka. Kendati demikian, di setiap space 'langka' itu tetap tersirat nilai pengalaman yang tidak dapat dialami oleh semua orang. Pengalaman yang langka ini kurang lebih kugambarkan sebagai berikut.

Saat pekan Orang Muda Claretian ini berlangsung, saya mendapat tugas sebagai asseret. Entah apalah artinya, yang penting adalah mengantar setiap kontingen ke kamarnya masing-masing dan mengkoordinir mereka sepanjang acara berlangsung. Unik memang karena ternyata mereka yang datang harus menempati kamar yang sudah diatur acak oleh panitia. Konsekuensinya, satu kamar harus ditempati oleh dua atau tiga orang yang datang dari negara, bahasa, dan budaya yag berbeda.

Peserta Filipina yang fasih berbahasa Inggris harus berhadapan dengan peserta Indonesia yang mungkin kurang fasih dalam berbahasa Inggris. Mereka berbahasa Inggris untuk sapaan-sapaan harian dan selebihnya tidak. Belum lagi peserta Taiwan yang lebih pada bahasa kalbu dan terkadang membuat ambigu. Hal ini baru dari segi bahasa dan belum menyentuh aspek gaya hidup dan kebiasaan.

Singkatnya setiap negara mempunyai kekhasan yang berbeda satu dengan yang lainnya, dan perbedaan itulah yang menempa mereka menjadi Orang Muda Claretian yang misionaris, menerima siapa saja dan belajar dari siapa saja. Mungkin inilah yang sempat dimaksudkan oleh Aristoteles, bahwa persahabatan terjadi kala seorang yang telah sampai pada puncak bersedia merendah dengan sahabat yang masih merayap.

Awalnya saya merasa gundah karena panitia menempatkan mereka sekamar dengan harapan mereka dapat saling mengenal. Ibaratnya berlari dalam kolam, hanya membuang daya percuma. Toh! Itu bukan urusanku, biarlah menjadi pergulatan mereka sekamar. Tanggal 1-7 Agustus, melihat perjuangan mereka, persahabatan, bahkan perhatian mereka akan satu dengan yang lain, saya hampir yakin bahwa mereka pasti selama tujuh hari tidak pernah tidur dengan nyaman, makan tak kenyang-mandi tak basah, dan bisa jadi berjalan dengan langkah yang ringan. Mereka tengah berkerut dahi selama tujuh hari lamanya untuk melibatkan yang lain dalam perkenalan mereka, aktivitas mereka, sekaligus hidup dan semangat mereka.

'Saya ingin berkenalan dan bersahabat dengan semua peserta, tetapi saya tak bisa berbahasa Inggris", demikianlah kata Ka Chaw seorang kontingen Taiwan.

Pada tahap inilah saya menemukan nilai Claretian yang juga membentuk identitas misionerku, Tanur. Orang muda tersebut rupanya selama tujuh hari telah ditempa dalam bengkel si pandai besi, "agar mendapat bentuk yang sesuai dengan keinginan pemiliknya".

Bengkel Si Pandai Besi rasanya diksi yang tepat untuk merangkum kenangan indah bersama Orang Muda Claretian di hotel Kana empat bulan yang silam. Saya bergulat di tengah kebersamaan dengan mereka. Bagaimana menggunakan mata Claret (pendiri kongregasi Claretian) membaca dinamika perjuangan kaum muda Claretian, yang bergerak dari kebaruan perjumpaan yang dangkal sampai pada kemendalaman batin yang mengikat berkat pengalaman kebersamaan yang terulang, baik dari canda bersama, cultural night bersama, sharing dan bahkan berpijak dalam tatanan acara yang terorganisir bersama.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline