Lihat ke Halaman Asli

Surat Terbuka mengenai Bencana Asap di Riau

Diperbarui: 24 Juni 2015   00:55

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

13948086231084863138

[caption id="attachment_326551" align="aligncenter" width="600" caption="Sudah begitu lama bencana ini terjadi. Jutaan orang menderita karena bencana ini. Mengapa bisa terjadi? Dimana mereka yang memiliki tanggung jawab terhadap rakyat?"][/caption]

Oleh : Sono Prabowo

Kepada pemimpin-pemimpin dinegeri ini. Kami tahu kesibukan bapak ibu semua mengurus negeri ini. Sibuk dengan tanggung jawab terhadap rakyat, bangsa, keluarga, bahkan tanggung jawab kepada partai yang membawa bapak ibu menjadi pengurus dinegeri ini.

Surat ini saya tujukan kepada semua pemimpin dinegeri ini, mengenai Bencana yang menerpa Enam Juta lebih masyarakat di sumatera khususnya Masyarakat riau.

Riau adalah negeri yang kaya, provinsi yang menyumbangkan APBN terbesar nomor dua, disinilah Bahasa Indonesia berasal, bahasa yang mempersatukan ratusan bahasa, suku, budaya yang ada dinusantara. Profinsi yang tidak sedikit memberikan kekayaan alamnya untuk semua masyarakat Indonesia.

Namun, sudah begitu lama kami tertimpa musibah. Enam juta orang lebih masyarakat diprovinsi riau bisa mati perlahan lahan karena penyakit ISPA.  Sudah begitu lama kami tidak menghirup udara yang bersih, sudah begitu lama kami merasakan udara panas, kami juga sudah merindukan indahnya Cahaya Matahari, bulan dan bintang.

Titik-titik api itu, asap atau jerebu itu, bukanlah mahkota kebanggaan profinsi kami. Tetapi menjadi malapetaka untuk kami dan masyarakat diberbagai profinsi.

Kepada bapak ibu yang mengurus negeri ini, kebakaran hutan yang melanda diprofinsi kami, kami sadar betul kebakaran hutan ini bukan urusan presiden, karena kita tahu kita memiliki menteri kehutanan  pertanian perkebunan, tapi kami juga sadar ini bukan urusan menteri-menteri itu, karena kami tahu negeri ini memiliki otonomi daerah, tapi kami juga sadar ini bukan salah Gubernur Riau, karena profinsi kami memiliki dinas kehutanan, dinas pertanian, dan juga polisi yang menjadi penegak hukum, tapi kami juga sadar ini BUKAN URUSAN MEREKA SEMUA.

Sekarang kami bingung mau mengungsi kemana, Sumatera barat, sumatera utara, jambi, bahkan negara tetangga Singapur, Malaysia juga berasap. Penderitaan kami tidak sampai disini saja, listrik juga sering mati, lapangan terbang ditutup, daratan tertutup asap, udara sangat tercemar, profinsi kami menjadi profinsi tidak layak huni. Lalu bagaimana nasib jutaan orang masyarakat riau?

Bapak ibu yang mengurus negeri ini, yang berada dipemerintahan, yang sibuk bekerja untuk seluruh masyarakat indonesia, yang bekerja untuk kemajuan negeri ini. Kami merasakan, bapak ibu semua pasti ingin melihat secara langsung dan mendengarkan keluh kesah kami.

Tapi kami sarankan, jangan datang keprofinsi kami. SANGAT BERBAHAYA. Lapangan terbang ditutup. Jika datang melalui jalur daratpun sangat berbahaya. Asap tebal menutupi pandangan. Jangan dipaksakan datang, kerana sangat berbahaya untuk kesihatan bapak ibu. Lagipun nanti tidak ada yang menyambut kedatangan bapak ibu, kerana anak-anak sekolah diliburkan, kamera tidak dapat mengambil gambar bapak ibu dengan jelas, dan pemandangan tidak bagus untuk objek mengambil gambar.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline