Lihat ke Halaman Asli

Peb

TERVERIFIKASI

Pembaca yang khusyuk dan penulis picisan. Dulu bercita-cita jadi Spiderman, tapi tak dibolehkan emak

Ruang Publik Tematik, Solusi Membangun Peradaban Masyarakat Modern Kota

Diperbarui: 1 Oktober 2015   11:16

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="sumber gambar : http://1.bp.blogspot.com/-ipmzMtm8tW0/VCWrxcPrxmI/AAAAAAAADuA/whQQ-WkNDa0/s1600/Taman%2BLansia.JPG"][/caption]

Ruang publik kota kini telah menjadi sebuah kebutuhan kehidupan masyarakat kota. Perkembangan penghuni kota telah membuat ruang-ruang kota menjadi semakin sempit. Penunjang kehidupan masyarakat perkotaan seperti fasilitas bangunan dan jalan memberikan sumbangan terbesar terbesar semakin sempitnya ruang kota tersebut. Padahal masyarakat kota tidak hanya membutuhkan bangunan dan jalan untuk hidup dan membangun peradabannya. Ada banyak hal lain yang penting, salah satunya adalah kebutuhan Ruang Publik Kota.

Adalah kewajiban pemerintah kota untuk menyediakan ruang publik bagi masyarakat kotanya, yang sekaligus membangun peradaban warga kotanya. 

Ruang publik pada pembangun peradaban masyarakat berposisi sebagai tempat yang direncananakan dan dibuat oleh otoritas kota (pemerintah) untuk masyarakat kota agar mereka bisa saling berinteraksi dengan sesama, dengan alam lingkungannya dan dengan Tuhan penciptanya. Interaksi ini terbangun dari elemen-elemen arsitektural dan non-arsitektural. Tempat tersebut bersifat bebas akses, artinya dapat dimasuki dan dinikmati oleh semua orang tanpa dipungut biaya.

Ruang publik kota mengandung dua hal pokok, yakni sebagai Place (tempat) dan Space (ruang non-fisik). Elemen arsitektural bersifat fisik yang berfungsi sebagai pengarah atau stimulan pada Place (tempat) untuk terciptanya ruang interaksi (Space) secara non-arsitektural.

Wujud Place ditentukan oleh perencanaan otoritas kota, sedangkan Space (wujud interaksi) diserahkan kepada setiap individu atau komunitas masyarakat kota. Wujud ‘Place’ berdasarkan kaidah artifisial, sementara ‘Space’ lebih bersifat alami-naluriah manusia.

[caption caption="https://bandungvariety.files.wordpress.com/2014/09/taman-film.jpg"]

[/caption]

Konsep Tematik Taman Kota

Kehidupan masyarakat kota yang semakin maju menjadikan kebutuhan mereka ‘terpetakan’ dengan sendirinya berdasarkan kelompok-kelompok kebutuhan. Mereka secara sadar tahu apa yang mereka butuhkan dan perlu diartikulasikan baik secara verbal maupun non-verbal. Dari hal tersebut, mereka bisa memilih apa yang menjadi kebutuhannya dalam skala prioritas. Inilah salah satu ciri-ciri yang tumbuh dari masyarakat kota, yakni adanya kesadaran akan bentuk kebutuhan, prioritas dan punya otoritas individu-kelompok kecil untuk memilih berdasarkan kebutuhannya itu. Maka tak heran ada kelompok-kelompok (komunitas) berdasarkan usia, hobby-kegemaran, gaya hidup, kesamaan pandangan (atensi) terhadap obyek alam, dan lain sebagainya.

Dalam hal ini pemerintah kota harus tahu ciri-ciri dan kebutuhan masyarakatnya. Dengan demikian, segala sesuatu yang direncanakan dalam pembangunan bisa termanfaatkan secara optimal dan mencapai sasaran guna membangun peradaban.

Dari kelompok-kelompok inilah terbangun interaksi yang intensif - optimal, yang bila dikelola akan menciptakan komunitas kelompok kerja  berbagi. Mereka sebagai identitas kelompoknya akan membangun jaringan untuk turut berbagi kepada semua orang diluar komunitasnya,  misalnya dalam kelompok kerja-aksi sosial menolong sesama.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline