Lihat ke Halaman Asli

Belajar Menilai Cagub Pilkada dari Rian Ernest

Diperbarui: 14 Februari 2017   12:03

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerita Pemilih. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG

Hari ini Selasa, 14 Februari 2017, satu hari menjelang pencoblosan Pemilihan Kepala Daerah, termasuk untuk DKI Jakarta. Tulisan tentang Pilkada DKI memang sudah penuh sesak dan warga pun sepertinya sudah menentukan pilihannya. Masa tenang justru sepertinya menjadi masa yang paling tidak tenang dengan banyak upaya last minute memenangkan kandidatnya. Salah satu contohnya adalah tulisan oleh Rian Ernest, yang kini bekerja untuk Pak Ahok dan menjadi salah satu anggota tim hukumnya, yang berjudul “Catatan Jongos Dua Cagub DKI” pada 13 Februari 2017 kemarin.

Pertama-tama, penting untuk kita sadari kenyataan bahwa argumen yang disampaikan seseorang, termasuk argumen politik, tentu dipengaruhi oleh posisi atau di mana ia berdiri. Hal ini adalah sesuatu yang natural. Tantangan kita adalah bagaimana mengedukasi diri dan sesama untuk mengurangi bias-bias yang sering secara natural timbul tersebut saat menghadapi argumen politik, sehingga pertimbangan dan argumen rasional semakin banyak tersedia. Mari kita belajar dari tulisan Rian Ernest tersebut,

Setelah kita baca, akan sangat mudah bagi siapapun yang mendukung Pak Anies dalam Pilkada ini untuk mengikuti ego-nya dengan memberikan argumen bantahan, lalu melakukan yang sebaliknya dari apa yang Rian tulis: mengunggul-unggulkan pak Anies dan mengkurang-kurangi sisi positif Pak Ahok sembari mencari kelemahannya. Kesimpulannya pun akan mudah ditebak: Pak Anies lebih unggul dari Pak Ahok karena pak Anies memiliki suatu hal yg dibutuhkan Jakarta saat ini. No surprise!

Bila dipikir kembali, sudah tentu kita harapkan Rian juga akan berkesimpulan dalam tulisannya bahwa Pak Ahok lebih tepat dipilih dalam Pilkada ini. Apa yg kita harapkan? Bahwa Rian tiba pada kesimpulan bahwa Pak Ahok sudah tidak pantas menjadi gubernur lagi karena banyak janjinya yang tidak ditepati, begitu? Who am I kidding? Dalam hal ini, kesimpulan argumen telah diputuskan dan sudah bisa diprediksi cukup dengan melihat di mana Rian Ernest sekarang berdiri.

Namun yang saya khawatirkan sebenarnya adalah bagaimana kita semua, publik, dapat tiba pada sebuah kesimpulan preferensi, baik itu mendukung Pak Ahok seperti Rian ataupun mendukung yang lain. "Metodologi" itu penting dalam upaya persuasi. Menurut saya, langkahnya cukup sederhana:

1) tentukan variabel dan indikator yang menurut kita penting untuk pekerjaan yg diperebutkan (Gubernur), misal: pengalaman, pendidikan, kasus korupsi, program tertentu, dll.

2) kumpulkan evidence dari setiap kandidat untuk indikator tersebut, bukan hanya dari salah satu, dan meliputi elemen positif dan negatifnya, lalu

3) bandingkan keduanya secara keseluruhan, bukan membandingkan dengan kondisi ideal yang kita inginkan karena let’s face it, kandidat ideal hanya hidup di paralel universe.

Metode yang benar ini agar kita bisa secara rasional menilai dan menimbang, tanpa cherrypicking atau hanya menggunakan evidence-evidence yang mendukung argumen yang hendak dibangun dan mengesampingkan yang tidak. Tampak mudah dan sederhana, namun cukup sulit pada praktiknya. Mohon izin untuk kembali menggunakan tulisan Rian Ernest sebagai contoh.

Salah satu indikator yang Rian sampaikan adalah variabel konsistensi dalam pilihan jalur/kendaraan politik. Rian berargumen bahwa Pak Anies tidak konsisten dengan memberikan evidence rekam jejak Pak Anies yang ikut serta dalam konvensi Parta Demokrat (PD) setelah sebelumnya menjadi anggota Komisi Etik KPK yang mengungkap kasus korupsi pada beberapa anggota PD. Banyak yang mungkin tidak setuju hal tersebut sebagai bentuk inkonsistensi, namun mari kita setujui saja dahulu demi argumen.

Dapat kita lihat bahwa Rian cherrypick dengan tidak meng-address inkonsistensi yang mungkin sebagian kalangan juga menilai telah dilakukan oleh Pak Ahok, serta menjelaskan mengapa inkonsistensi yang satu lebih dapat ditoleransi dibandingkan yang lain. Sebagai contoh, Pak Ahok yang telah bergonta-ganti kendaraan partai politik dari PPIB di Belitung Timur, Golkar di DPR-RI, Gerindra sebagai Wagub DKI, dan kini sepertinya PDIP. Tidak pula dibahas mengenai maju mundurnya Pak Ahok sebagai calon independen atau calon parpol dalam Pilkada sekarang. Ini adalah contoh cherrypicking dalam bentuk sederhana: ambil evidence yang sesuai dan buang yang tidak sesuai.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline