Lihat ke Halaman Asli

Cahyadi Takariawan

TERVERIFIKASI

Penulis Buku, Konsultan Pernikahan dan Keluarga, Trainer

Acceptance Factor dalam Pendidikan Anak

Diperbarui: 11 September 2022   09:32

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

https://myhero.com/

Di zaman Nabi saw hidup, terdapat seorang sahabat bernama Amr bin Al-Jamuh. Ia adalah seorang lelaki yang pincang. Ada kelainan pada kakinya. Ia memiliki empat orang anak laki-laki. Amr mengutarakan keinginannya untuk ikut dalam perang Uhud. Namun keempat anaknya menghalangi, mengingat kondisi fisik bapaknya.

Amr bin Al-Jamuh tidak rela dengan sikap keempat anaknya. Segera ia mengadukan jawaban anaknya kepada Nabi Muhammad saw. "Aku benar-benar ingin kakiku yang pincang ini dapat menginjak surga," ujar Amr bin Al-Jamuh.

Nabi saw melihat kesungguhan lelaki pincang ini. Beliau melihat, Amr adalah pejuang keimanan yang sangat tulus. "Janganlah kalian menghalangi Bapak kalian ikut berperang," sabda Nabi saw kepada keempat anak Amr.

Betapa bahagia Amr bin Al-Jamuh dibolehkan ikut berperang bersama pasukan Nabi saw dan umat Muslim. Ia syahid dalam Perang Uhud. Nabi saw meyatakan bahwa beliau melihat Amr bin Al-Jamuh menginjakkan kakinya yang pincang di surga.

Di zaman Nabi saw, ada seorang lelaki alim dan salih bernama Abdullah bin Mas'ud. Lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Mas'ud. Ia adalah  adalah seorang sahabat Nabi saw yang betis kaki dan telapak kakinya kecil. Ada kelainan pada betis dan tapak kakinya.

Suatu ketika, angin berembus kencang sehingga tersingkaplah bagian bawah pakaian Ibnu Mas'ud, hingga terlihat kedua telapak kaki dan betisnya yang kecil. Melihat itu, beberapa sahabat menertawakannya.

"Apa yang sedang kalian tertawakan?" tanya Rasulullah saw kepada para sahabat.

"Kedua betis Abdullah bin Mas'ud yang kecil, wahai Nabi Allah," jawab sahabat.

Nabi saw tidak rela dengan sikap para sahabat tersebut. "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kedua betisnya itu lebih berat timbangannya daripada Gunung Uhud di mizan nanti" (HR. Ahmad).

Di zaman Nabi saw, ada seorang lelaki salih bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Ia adalah sahabat Nabi saw yang tuna netra. Abdullah bin Ummi Maktum dikaruniai naluri yang sangat peka untuk mengetahui waktu. Jika menjelang fajar, berbekal tongkat ia keluar dari rumahnya, menuju masjid dan mengumandangkan adzan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline