Lihat ke Halaman Asli

Opa Jappy

Orang Rote yang Bertutur Melalui Tulisan

Tanggapan Publik Terhadap Pidato Politik Anies Baswedan

Diperbarui: 17 Oktober 2017   08:14

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tangkapan Layar Laman Wikipedia Com

Di Suatu Tempat, Nan Jauh dari Nusantara--Hari ini, tak seperti 15 Oktober 2012, hari ini, sebagian besar warga DKI Jakarta, justru terkejut dan prihatin. Itulah sepotong pesan yang datang padaku melalui WhatsApp.

Setelah memburu info dari Tanah Air, terkejut dan keprihatinan warga tersebut, datang dari, "Setelah mereka melihat dan mendengar Pidato Selebrasi Anies Sandi sebagai Gubernur DKI Jakarta."

Ternyata, itu to

Beberapa jam yang lalu, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dilantik sebagai Gub dan Wagub Jakarta, yang disambut hujan badai. Dilanjutkan acara Selamatan Jakarta di Balai Kota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Pada momen itulah Anies Baswedan menyampaikan pidato politik sebagai Gubernur DKI. Di hadapan para pendukungnya, menyatakan bahwa

"Jakarta ini satu dari sedikit kota di Indonesia yang merasakan polarisme dari dekat. Di Jakarta, bagi orang Jakarta, yang namanya kolonialisme itu di depan mata.

Kita semua pribumi ditindak, dikalahkan, kini saatnya kita menjadi tuan rumah di negeri Indonesia.

Jangan sampai Jakarta ini seperti yang dituliskan pepatah Madura. 'etk s atellor ajm s ngremm', itik yang bertelur ayam yang mengerami.

Kita yang bekerja keras untuk merebut kemerdekaan, kita yang bekerja keras untuk menghapuskan kolonialisme [dari berbagai sumber]."

Dari pidato di atas, saya bisa menerima dan maklumi jika ada warga DKI yang terkejut dan prihatin. Paling tidak ada beberapa hal, menurut saya, yang tak elok dari pidato politik tersebut.

Pertama. "Kita semua pribumi ditindak, dikalahkan, kini saatnya kita menjadi tuan rumah di negeri Indonesia."

Pribumi ditindak dikalahkan, Nies, maksudnya apa nich? Agaknya, ia kedepankan sentimen pribumi-non pribumi, dan generalkan  Jakarta sebagai Indonesia. Padahal, kalau mau jujur, leluhur Anies Baswedan pun bukan asli Nusantara; juga, Jakarta hanya 'sepotong' Indonesia.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline