Lihat ke Halaman Asli

Novi Saptina

Guru berprestasi di bidang bahasa dan menaruh perhatian pada kajian sosial dan budaya

Puasa Pada Waktu Kecil

Diperbarui: 3 Juni 2018   18:32

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Anak-anak bermain bersama. Dokpri

Puasa pada waktu saya kecil, tidak bisa dilukiskan dengan cerita yang sekali saja. Cerita itu akan sambung menyambung. Bila melihat sesuatu yang hampir sama yang dialami dulu waktu kecil, baru ingat cerita dulu seperti ini. Namun bila disuruh menceritakan secara urut dari A sampai Z akan sulit. Yang jelas suasana puasa waktu itu sangat tenang sekali cenderung sepi pada saat mulai jam delapan atau sembilan pagi. 

Baru orang-orang mulai ramai jam tiga sore. Ada yang mencari makanan berbuka, ada yang mulai berbelanja di warung , dan aku harus pergi ke masjid melakukan shalat asar dan mengaji di langgar ,yaitu masjid masjid kecil. Kakak-kakak remaja di langgar itu mengajar  sampai jam 5 sore, lalu pulang untuk menanti saat berbuka puasa.

Sampai di rumah biasanya memakan waktu 15 menit. Di rumah, ibu dan kakak-kakak sedang menyiapkan makanan berbuka puasa di meja makan. Kolak pisang dicampur ubi dan kolang-kaling, teh manis, dan makanan kecil. Dulu, kurma belum akrab seperti sekarang ini.

Sesudah berbuka puasa, malamnya salat tarawih di masjid tempat tadi saya mengaji. Saya tarawih bersama kakak-kakak saya. Ibu tarawih di musola dan bapak di masjid besar. Rumah dalam keadaan terkunci. Yang menarik kalau pulang tarawih, kakakku suka membeli makanan kecil. Di depan langgar ada mbok-mbok yang menjual makanan sangat beraneka. Itu yang membuat kenangan tersendiri, sepertinya damai sekali.

Bersyukur

Pagi dini hari ketika sahur, aku dibangunkan kakak-kakakku. Biasanya semua sudah ada di meja makan. Aku bangun masih mengantuk meskipun sudah membasuh muka. Kakakku sudah mengambilkan nasi ke piringku. Aku ditawari, "Pakai ini ya?".  Aku biasanya hanya nurut saja, kami dididik untuk tidak pilih-pilih makanan. 

Semua harus disyukuri kata ibu dan bapak. Sebab, bila tidak bersyukur, Allah akan memberi siksa yang pedih, aku sangat takut, sehingga aku menurut saja." "Lain syakartum laadzi danakum, wala ini kafartum inna adzabi lasyadiid", itu ayatnya . Artinya adalah "Barang siapa yang bersyukur akan Aku (Allah) tambah nikmatku, dan bila engkau tidak bersyukur (kufur) maka sesungguhnya siksaku amat pedih." Itulah yang kami selalu berpegah teguh pada ajaran kitab suci Alquran itu.

Keluargaku, bila di meja makan ramai sekali, entah itu sahur atau berbuka, selalu saja ada gelak tawa. Kakak-kakakku pandai bercerita lucu di meja makan. Menceritakan teman-temannya yang lucu. Aku sering ingin cepat besar sepertinya, agar mempunyai teman-teman yang lucu seperti kakak-kakakku.

Sesudah sahur, kami semua subuhan, yaitu shalat subuh di masjid. Sesudah shalat subuhpun tidak boleh tidur, kami semua di rumah mengerjakan tugas masing-masing yang sudah dibagi. Aku mendapat tugas menyapu dan menata koran dan majalah di ruang tamu dan ruang tengah. Ruang samping tempat meja makan dan belakang kakak-kakakku.

Waktu itu, seingatku puasa itu sekolah libur. Jadi, kami anak-anak menikmati puasa sangat lama sekali hingga puas. Sangat teratur sangat normatif, kehidupan berjalan terus menerus, itu yang aku ingat. Sehabis mandi pagi, aku bermain dengan teman-teman. Permainan tradisional, engklek, gobak sodor,ular naga, betengan, dan lain-lain. Sampai menjelang dhuhur, aku pulang. Pada waktu itu aku baru puasa setengah hari. Aku diperbolehkan ibu berbuka, nanti disambung lagi sampai maghrib. Biasanya sehabis berbuka siang, shalat dhuhur, lalu tidur. Setelah bangun di sore hari, mandi untuk menuju langgar shalat asar dan ngaji lagi.

Begitulah yang membuat aku heran, begitu teratur dan normatif sekali. Kok bisa terjadi jadwal setiap hari yang rutin tanpa ada yang keluar dari jalurnya. Semua begitu menurut aturan tanpa membantah dan paksaan. Bila diibaratkan seorang pekerja, SOP nya sudah melekat dengan bagus.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline