Lihat ke Halaman Asli

Strategi Ilmiah Anti-Propaganda Media

Diperbarui: 22 September 2016   13:25

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Media. Sumber ilustrasi: PIXABAY/Free-photos

Oleh: M. Nova Burhanuddin

Abstraksi

The phenomenonof media propaganda is very massif nowadays. Especially, in Arab Spring revolutions and wars contexts. In Indonesia context, it make a like chaos in grassroot social order. It make the mass media the wrong guide, prefer than the right one. But, the mass communication which is the ground of mass media, can not be disparated from its social science theories epistemologically. Therefore, the phenomenon of media propaganda can be avoided with social science approach. And I, as an essayst of this message,will add some islamic sciences to it, to make the analysis more religious humanis.

Pendahuluan

Manusia adalah makhluk sosial. Ia juga makhluk madani. Al-Insân Kâin Ijtimâ'îy wa madanîy bi-thab'ihi. Karena itulah hanya manusia yang bisa disebut berpendidikan, kemudian berbudaya. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa memenuhi semua kebutuhannya sendiri.[1] Termasuk di antara yang relevan dalam tema esai kali ini adalah kebutuhan manusia akan komunikasi.

Manusia kini dikepung oleh fenomena komunikasi. Fenomena yang dulunya hanya bagian dari fitrah manusia untuk bersosialisasi dengan dirinya sendiri, dengan sesama teman, antar kelompok, kini berubah menjadi kebutuhan zaman dalam kerangka industri, teknologi, persaingan bisnis, politik (terutama pemilu), bahkan kedaulatan negara. Sesuatu yang dulunya bisa dijalani dengan lepas, riang gembira, kini mau tidak mau dilakukan dan diperlakukan dengan penuh perhitungan dan antisipasi, bahkan atas dasar desakan keadaan. Fenomena komunikasi dan informasi yang semakin kompleks tersebut semakin panas dengan munculnya fenomena propaganda media yang konon 'berprestasi' memicu Perang Dunia Pertama.

Media dan Propaganda

Sejak prestasi hebat tersebut, media tidak ragu lagi selalu bermain di semua perang besar dunia. Perang Dunia Kedua, Perang Dingin AS-Uni Soviet, Perang Irak-Kuwait, Perang Irak-Iran, Perang Israel-Arab, juga yang masih hangat Perang Musim Semi Arab (Arab Spring Wars). Sementara itu, media juga benar berprestasi menarik dukungan dunia atas perjuangan kemerdekaan negara-negara terjajah Asia dan Afrika. Prestasi positif atau negatif tersebut tergantung sudut pandang peneliti. Namun yang sangat disesalkan oleh ilmuwan dunia soal media adalah bahwa ia kerap disetir sebagai alat propaganda, sehingga citra buruk media sebagai alat propaganda sulit dilepaskan.

Dari sudut pandang politik pragmatis, propaganda media memang benar pernah berprestasi dalam perjuangan kemerdekaan suatu bangsa. Namun, dari sudut pandang ilmiah, propaganda media merusak otoritas ilmiah sejarah di masa depan. Peradaban ilmiah yang dibangun di atas 'fakta-fakta' propagandis  suatu hari nanti pasti akan roboh diterjang kritik ilmiah dunia. Perjuangan kemerdekaan yang sejati tidak membutuhkan propaganda. Apalagi harapan perdamaian dunia yang hakiki. Cita-cita mulia memang seharusnya senantiasa diusahakan putih, suci, dan bersih.

Keterperosokan media dalam jurang propaganda, menurut hemat penulis, bukan sebab faktor eksternal sepenuhnya. Lemahnya integritas ilmiah media merupakan faktor internal paling kuat untuk kejatuhan itu. Integritas ilmiah di sini seringkali dibegal oleh kepemilikan modal besar, desakan kepentingan politik, juga godaan pragmatisme negatif. Juga banyak rintangan lain .. hal-hal yang bisa membuat kita ragu seraya bertanya-tanya, “Bisakah media selamat?”

Beruntung, sejarah menceritakan bahwa media mengalami arus balik ilmiah berkat peran para ilmuwan dunia di semua bidangnya (komunikasi dan informasi, sosiologi, politik, psikologi, ekonomi, sejarah, hukum, sastra, juga matematika, logika, dan lain-lain hingga mencapai 25 bidang) sejak sepertiga awal abad keduapuluh. Mereka turun gunung mencoba merumuskan fenomena komunikasi dan media seilmiah mungkin. Ada banyak usaha dengan analisis kualitatif dan kuantitatif. Ada juga sejumlah kegagalan teoretis. Dan koreksi ilmiah atas media terus berlangsung semakin membaik hingga kini, menuju kemanusiaan sejati yang diharap-harapkan.[2]

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline