Lihat ke Halaman Asli

Moh Nur Nawawi

TERVERIFIKASI

Founder Surenesia

Pertanian, Pandemi, dan Ekonomi Digital

Diperbarui: 25 September 2021   08:39

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokpri

Pandemi banyak merubah struktur kehidupan manusia, semua lini kehidupan terdampak olehnya selain sektor kesehatan yang terdampak langsung tentunya sektor ekonomi sangatlah menjadi sektor yang kena imbas dari wabah pandemi covid 19 di dunia. Banyak sektor sektor pendukung ekonomi indonesia yang harus merubah haluannya agar tetap bisa survive di masa masa sulit ini. Bicara perekonomian tentunya tidak lebih dari aktifitas produksi dan konsumsi seperti sebuah putaran roda yang saling keterkaitan.

Pertanian dimasa Pandemi.

Struktur perekonomian Indonesia dari sisi pengeluaran didominasi oleh konsumsi rumah tangga lebih dari separuhnya, karena memiliki populasi yang besar sebagai penggerak utama ekonomi. Sesuai data yang ada tercatat di laporan PDB nasional tahun 2020; kontribusi konsumsi rumah tangga di angka 53,9% tak banyak berubah selama 5 tahun terakhir. Bahkan setelah pandemik genap satu tahun pun, di kuartal pertama 2021 kontribusi konsumsi rumah tangga tetap bertengger di angka 54,1%. Hal ini adalah sebuah fakta positif yang bisa dikatakan bahwa Indonesia lebih tahan krisis berdasarkan PDB pengeluaran konsumsi rumah tangga dibandingkan negara tetangga kita Singapura, negara yang hanya berpenduduk 5,7 juta orang tersebut tidak bisa mengandalkan konsumsi sebagai penggerak ekonomi.

Dari kaca mata input atau produksi yang mendukung ekononi nasional dimana sektor yang selama ini menggerakkan ekonomi Indonesia secara berurutan adalah industri pengolahan, perdagangan, pertanian, lalu konstruksi dan pertambangan. Kelima sektor terbesar penyumbang PDB nasional. Dimasa pandemi ini ada pergeseran urutan penyumbang pergerakan ekonomi nasional dimana pertanian menjadi satu-satunya sektor yang masih tumbuh positif di hingga kuartal pertama 2021 dengan besaran 3,8% secara year on year atau tumbuh 11,2% quarter to quarter. Pertanian adalah sektor penghasil bahan baku pangan pokok, sedangkan sektor industri pengolahan yang mengubah bahan baku menjadi barang siap konsumsi dan siap pakai.

Melihat dari kondisi pergeseran struktur penopang ekonomi nasional menurut para pakar ekonomi bisa dikatakan bahwa struktur ekonomi Indonesia bisa tidak akan banyak mengalami perubahan selama masa pandemik. Perlambatan akan terjadi di sektor industri pengolahan dan perdagangan, namun tidak dengan sektor pertanian. Turunnya daya beli masyarakat tidak akan menurunkan volume konsumsi namun menyebabkan pola konsumsi beralih dari produk premium ke produk pokok dan dasar. Masyarakat tetap membutuhkan pangan untuk konsumsi namun akan berubah perilakunya dengan membeli produk kebutuhan pokok yang lebih terjangkau dan dalam kemasan yang lebih kecil terkait ketatnya arus kas di tingkat rumah tangga. Momentum pandemi ini bisa dikatakan menjadi momentum bagi sektor pertanian dan para penggiatnya untuk terus berinovasi memenuhi kebutuhan masyarakat, karena tren positif tersebut harus dijawab oleh pelaku sektor pertanian agar bisa terus berkelanjutan.

Pertanian dalam kerangka ekonomi digital

Melihat kondisi perkembangan teknologi dimana peningkatan kehidupan serba digital semakin meningkat terlebih dengan hadirnya wabah pandemi ditengah kita yang memaksa semua sektor berkolaborasi dengan aktifitas digital, hal tentunya sebuah geliat positif bagi sektor pertanian, dimana akan terus memegang peranan cukup vital di era ekonomi digital saat ini. Perkembangan ekonomi digital mengalami tiga fase, yang pertama adalah lahirnya ecommerce yang menghubungkan penjual dan pembeli melalui platform digital dengan lintas batas (borderless). Kita bisa lihat dilapangan seperti kondisi dimana perusahaan besar yang menikmati fase ini adalah Amazon dan Alibaba, di Indonesia ada bukalapak, tokopedia dan perusahan sejenis lainnya.

Kita saat ini berada di fase kedua perkembangan teknologi digital yaitu ditandai dengan berkembangnya platform yang menghubungkan berbagai rantai pasok, bukan hanya penjual dan pembeli saja, tapi juga melibatkan produsen, gudang penyimpanan dan rantai pengiriman. Gojek dan Grab adalah contoh dari platform rantai pasok digital.

Fase kedua ekonomi digital juga ditandai dengan munculnya banyak startup yang mendigitalisasi sektor spesifik. Misalnya GudangAda yang mendigitalisasi kategori FMCG (fast moving consumer goods) dan Etanee untuk kategori makanan segar dan beku (fresh and frozen). Para penggiat bisnis nasional bahkan didominasi oleh para milenial telah banyak mendirikan perusahaan startup di fase kedua ini seperti tanihub, paktani dan lainnya. Fase kedua ini diprediksikan akan meningkatkan nilai tambah di sektor pertanian dan pangan yang selama ini memiliki masalah efisiensi karena buruknya rantai pasok di tanah air tentu hal ini adalah peluang positif bagi sektor pertanian.

Ekonomi digital pada masanya dan saat ini karpet merah sudah terhampar yaitu memasuki fase ketiga, dimana fase ketiga dari perkembangan ekonomi digital adalah penggunaan smart devices melalui kecerdasan buatan atau artificial intelegent, machine learning, teknologi internet of things (IoT) yang mendigitalisasi proses produksi, budidaya, pasca panen, logistik dan pengiriman produk pertanian dan pangan. Bahkan di fase ketiga diperkirakan yang akan mendapatkan manfaat besar adalah sektor pertanian. Teknologi yang akan banyak dimanfaatkan di proses budidaya dan produksi adalah smart and precision farming untuk melakukan rencana tanam dan proses budidaya pertanian dengan memanfaatkan data historis maupun data real-time dari kondisi iklim dan cuaca. Efeknya hasil produksi budidaya akan lebih efisien dan produktif.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline