Lihat ke Halaman Asli

Aziz Naufal Hadi

Untuk artikel yang saya tulis di sini, semuanya dapat diakses dalam blog saya sendiri yaitu naufalhd.blogspot.com.

PJJ: Seberapa Efektifkah Pelaksanaannya?

Diperbarui: 1 Juli 2020   20:22

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi Kuliah Daring (Sumber: sevima.com)

Satu semester bagiku merasakan dampak dari invasi virus Covid-19 ke Indonesia. Berbagai sektor mengalami penurunan aktivitas guna mengurangi dampak penyebaran virus. 

Bagi saya seorang mahasiswa, sektor yang paling dirasakan adalah pendidikan. Sebuah metode saat ini diterapkan sebagai adaptasi selama masa pandemi akibat adanya larangan untuk menjaga jarak fisik setiap orang. 

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) adalah metode pembelajaran secara daring dengan memanfaatkan teknologi internet sebagai cara untuk mempertemukan dosen/guru dengan mahasiswa/siswanya. 

Sebenarnya metode ini mempertemukan orang lain melalui video sudah dikenal lama sebagai video conference yang digunakan saat perusahaan melakukan rapat secara daring. 

Hanya saja karena kondisi saat ini, metode ini semakin berkembang terbukti dengan semakin banyaknya platform-platform yang menyediakan fasilitas video conference. Namun pertanyaannya, sudah siapkah kita dengan metode ini? Seberapa efektifkah pelaksanaannya? 

Tidak hanya melalui rapat daring, metode video conference ternyata telah diterapkan dalam dunia pendidikan sebelum masa pandemi berlangsung. Ada beberapa kampus di Amerika Serikat yang telah menerapkan metode perkuliahan jenis ini sebelumnya. Dikutip dari Okezone.com (27/12/2016) dan Hotcourse.co.id (29/04/2019), kampus-kampus tersebut diantaranya adalah, 

  1. University of New Mexico (UNM),
  2. University of Oregon (UO),
  3. The Ohio State University (OSU),
  4. Pennsylvania State University (Penn State),
  5. University of Florida (UF),
  6. New England Intitute of Technology (NEIT),
  7. Hofstra University,
  8. Robert Morris University (RMU), dan
  9. California Baptist University (CBU).

Terdapat lebih dari 5 kampus di Amerika Serikat yang sampai saat ini memberlakukan kuliah daring untuk beberapa program studi. Program digitalisasi pendidikan seperti ini tidak menurunkan kualitas pendidikan yang dihasilkan oleh kampus-kampus ternama di atas. Kurikulum yang diterapkan tetap sama dengan seperti yang diajarkan di dalam kelas. 

Tentunya tidak selamanya mahasiswa melakukan kuliah secara daring, tetap ada waktu yang digunakan untuk melakukan tatap muka di kelas. Seperti pada UNM, kuliah daring fleksibel dilakukan dalam waktu 8 pekan, lima kali setiap tahun. Kampus lain juga ada yang menerapkan kuliah daring secara penuh satu semester dengan minimal 2 kali tatap muka yaitu saat pelaksanaan ujian. 

Kesiapan kampus-kampus ini dalam melaksanakan kuliah daring didukung oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut seperti layanan internet yang berkualitas, server kampus yang memadai, pemberian lisensi penuh terhadap beberapa aplikasi oleh kampus, dosen dan profesor yang mengerti cara mengajar secara daring dan beberapa faktor-faktor lain yang mendukung. Hal inilah yang menyebabkan program kuliah daring menjamur di Amerika. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Sudah siapkah? 

Sejak teridentifikasinya virus corona di Indonesia, beberapa kampus menerapkan kebijakan PJJ sebagai sarana pencegahan penularan virus. Seperti yang dilakukan oleh Universitas Indonesia (UI) dalam SK rektor nomor: SE-703/UN2.R/OTL.09/2020 Tentang Kewaspadaan dan Pencegahan Penyebaran Infeksi Covid-19 di Lingkungan Universitas Indonesia per tanggal 18 Maret 2020 semua kegiatan belajar mengajar diubah menjadi PJJ sampai berakhirnya semester genap tahun ajaran 2019/2020. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline