Lihat ke Halaman Asli

Nanang Sumanang

Guru Sekolah Indonesia Davao-Filipina

Ibu, yang Mengeja Kata dengan Cita, dan Menghembus Napas dengan Doa

Diperbarui: 5 November 2022   13:55

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

"When I find myself in time of trouble, mother Mary comes to me, speaking word of wisdom let it be. And in my hour of darkness, she is standing in front of me, speking words of wisdom let it be..."                                                                            

                                                                                                                                                                                       Let it be, Sir Paul Mc Cartney

Bagi sebagian besar orang, terutama yang hidup di sekitar tahun 70-an, potongan lirik lagu di atas terasa sangat akrab di telinga. Dahulu hampir setiap hari, potongan lirik di atas yang merupakan bagian dari lagu Let it be-nya the Beatles selalu diputar di radio-radio, dan juga banyak dinyanyikan oleh anak-anak muda ketika kumpul bersama. Ya, lagu tersebut ditulis oleh salah satu anggota band the Beatles, Sir Paul Mc Cartney. Lagu yang ditulis pada tahun 1968 bercerita tentang pengalaman pribadinya, dimana ketia ia berumur 14 tahun, ditinggal oleh kematian ibunya, Mary Patricia Mc Cartney, atau biasa juga disebut dengan Mary Mohin Mc Cartney yang sangat dicintainya. Sejak ibunya meninggal, keluarga Mc Cartney mengalami kesulitan yang sangat besar, terutama masalah keuangan, karena ibunya, yang merupakan seorang bidan, menjadi penyokong utama ekonomi keluarganya.

Rasa sedih kehilangan ibunya, membuat dirinya sangat sedih, dan skeptis terhadap agama. Dalam setiap doanya, Paul Mc Cartney meminta kepada Tuhan agar mengembalikan ibunya, tetapi keinginan dalam doanya tidak pernah terjadi, yaitu ibunya kembali hadir dalam kehidupan keluarganya. Untuk menghibur Paul, sang ayah kemudian memberikan sebuah gitar "You lose a mother-and you find a guitar". Sejak saat itulah, kesedihan hatinya ditinggal ibunda tercinta yang sangat dikasihinya, dituangkan dalam bait-bait lirik lagu-lagunya, yang kemudian menjadi lagu yang sangat sangat terkenal semisal lagu "I lost my little girl" yang ditulis tidak lama ketika ibunya dimakamkan, lagu  "Yesterday" yang dia tulis pada tahun 1965 juga dengan penuh linangan airmata karena kepergian ibunya, yang dikatakannya sebagai pemaksaan untuk berpisah dengannya dan ini adalah sesuatu yang salah menurutnya " ...Why she had to go? I don't know, she wouldn't say. I said something wrong now I long for yesterday..."

Perjalanan the Beatles menjadi super group yang hebat, yang merevolusi dunia musik Pop, ternyata menyimpan ketidak-harmonisan para anggotanya. Ketidak-harmonisan baik dalam berkretifitas, dalam bisnis, maupun masalah-masalah pribadi, apalagi ketika masuk Yoko Ono dalam kehidupan John Lennon. Masalah internal dalam the Beatles ini menjadikan Paul frusatasi, lalu lari ke obat-obatan, minum-minuman beralkohol, begadang, clubbing dan sebagainya. Tahun 1968, ketika ia tertidur, ia bermimpi kedatangan ibunya yang membuat dia merasa sangat bahagia. Walau dalam  mimpi, tapi Paul merasakan reuni yang teramat sangat luar biasa hebatnya dan ibunya mengatakan bahwa semua masalah akan menjadi baik baik, biarkanlah "Let it be". Pagi harinya dia bangun dengan penuh optimistic dan menuliskan lirik-lirik lagu yang kemudian dikenal dengan lagu "Let it be"

Yang ingin saya katakan dari cerita di atas bahwa cinta seorang ibu kepada anak-anaknya adalah cinta yang benar-benar tulus dan bersifat sepanjang masa (abadi), bahkan ketika sang ibu sudah tiadapun, dia akan tetap mencintai anak-anaknya, dan memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.

Tiada kata yang paling indah yang pernah disebut oleh manusia kecuali kata Ibu. Sesungguhnya ada hubungan yang sangat menarik dan unik antara orang tua, khususnya ibu dengan anak-anaknya. Hubungan ini bisa ditinjau dalam berbagai persepektif baik ilmu pengetahuan, budaya, maupun agama. Dalam psikologi dikenal teori attachment dan affectional bonds. Attachment yang pertama kali diperkenlakan oleh psikolog Inggris John Bowlby, 1958, menggambarkan konsep sebuah hubungan relasi antar ibu dan anak. Teori ini kemudian berkembang, dan menurut Hetherington attachment adalah pola hubungan/ ikatan emosional  anak dan orang tua, terutama ibu yang hangat dan dekat, terbentuk secara khusus, yang mengikat mereka dan bersifat sepanjang masa. Sementara affectional bonds diartikan sebagai hubungan/ ikatan yang relatif kekal, dimana orang yang berhubungan/ pasangannya merupakan individu yang unik dan tidak bisa digantikan dengan yang lainnya. Affectional bonds ini ditandai dengan adanya kebahagiaan ketika berkumpul bersama, dan akan menimbulkan kesedihan yang mendalam apabila berpisah, sehingga antar pasangan ini akan terus menerus mempertahankan hubungannya dengan sekuat tenaga.

Dalam kasus Paul Mc Cartney, maupun hampir semua anak manusia yang terjadi adalah bukan hanya attachment, tetapi sudah affectional bonds, dimana seorang anak akan selalu merindukan kehadiran orang tuanya, terutama ibu, walaupun figur seorang ibu sudah tidak ada, tetapi ajaran, ujaran, perilaku seorang ibu akan melekat terus dalam ingatan anak dan menjadi pendorong anak untuk hidup sesuai dengan apa yang dirasakan, didengar, ataupun dilihat dari ibunya

Setiap anak pasti masih ingat tentang ajaran, laku, ucapan, tindakan, diamnya dan semua tentang ibunya. Semua kenangan itu tersimpan dalam kotak storage yang sangat sempurna di dalam rasa setiap manusia. Seorang ibu yang sudah puluhan tahun tidak bertemu dengan anaknya, maka dengan mudah ibu tersebut mengenali anaknya kembali hanya melalui kontak mata dengan anaknya ketika pertama kali bertemu kembali.   Ada anak yang ngangenin masakan ibunya, atau ada anak kangen dengan pelukan dan usapan tangan ibunya di rambut  di atas kepalanya. Rasa masakan ibu, pelukan penuh kasih sayang, ataupu usapan tangan ibu pada rambut anaknya selalu mendatangkan kebahagiaan, dan ketenangan yang hebat sekali. Ada rasa yang suliti dilukiskan oleh kata-kata. Rasa itu selalu dan akan selalu tersimpan dalam ingatan sang anak dan akan selalu dirindukannya.

Menurut Hetherington lagi bahwa pola hubungan ibu dan anak adalah pola yang sangat kuat melebih pola hubungan bapak dan anak, sehingga pola hubungan ibu dan anaklah kelak yang akan membentuk kepribadian dan perkembangan spiritual, intelektual, mental dan moral  maupun jasmani seorang anak yang nantinya akan berpengaruh dalam masyarakatnya.

Dalam sosiologi, agen utama dan pertama dalam pembentukan karakter seorang anak adalah keluarga, dimana peran orang tua, terutama ibu memegang peranan yang sangat penting dalam sosialisasi, internalisasi, serta pembudayaan nilai-nilai ke dalam diri sang anak. Kepribadian anak akan terbentuk dalam tangan kedua orang tuanya, terutama sang ibu, yang akan mengukir garis-garis, maupun warna warni dalam lukisan jiwa sang anak. Sang anak akan menyentuh, merasakan, melihat, mendengar apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh orang tua, ditiru, tersosialisasi, terinternalisir dan terbudayakan dalam kehidupan sehari-hari sang anak. Dalam bahasa Sunda ada istilah "Uyahmah moal ts ka luhur" kalau diartikan secara bebas artinya bahwa anak itu akan menuruni sifat atau perilaku orang tuanya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline