Lihat ke Halaman Asli

Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Tradisi Pingitan Jawa

Diperbarui: 22 Juni 2022   10:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Pingitan adalah tradisi yang dilakukan calon pengantin sebelum hari pernikahan dilangsungkan sebagai pelindung bagi calon pengantin dari marabahaya, dipingit bisa diartikan calon pengantin dilarang bertemu sampai hari pernikahan. Khusus untuk calon pengantin perempuan bukan sekedar dilarang bertemu dengan calon suaminya tetapi juga dilarang beraktivitas keluar rumah. Hal ini dikarenakan masyarakat Jawa meyakini bahwa calon pengantin itu memiliki darah manis yang akan rentan terhadap gangguan gaib sehingga lebih baik dipingit di dalam rumah menjelang hari pernikahan. Dengan cara ini maka calon pengantin perempuan akan terlihat lebih manglingi sewaktu akad berlangsung, aura kecantikannya lebih terpancar. Selama waktu dipingit, kedua calon pengantin memiliki waktu untuk mempersiapkan diri masing-masing. 

Selain persiapan fisik, mental juga harus disiapkan. Pingitan memberi waktu bagi masing-masing calon pengantin untuk memperkuat niatnya dalam melaksanakan pernikahan. Calon pengantin pria mempersiapkan hati dan akalnya untuk menerima segala kekurangan calon pasangan hidupnya dan membimbing kehidupan keluarganya sebagai kepala rumah tangga. Calon pengantin wanita, disiapkan mentalnya untuk bersiap atas segala terjangan kelak yang akan menimpa keluarganya, dan bersabar akan ujian yang akan dihadapi dalam pernikahan mereka. Penelitian yang dilakukan un berdasarkan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan hermeunitaka untuk memahami penelitian lain agar mendapatkan tulisan penelitian yang lebih lengkap.

Tradisi Pingitan

Pingitan adalah tradisi yang dilakukan calon pengantin sebelum hari pernikahan dilangsungkan sebagai pelindung bagi calon pengantin dari marabahaya, dipingit bisa diartikan calon pengantin dilarang bertemu sampai hari pernikahan. Khusus untuk calon pengantin perempuan bukan sekedar dilarang bertemu dengan calon suaminya tetapi juga dilarang beraktivitas keluar rumah. Hal ini dikarenakan masyarakat Jawa meyakini bahwa calon pengantin itu memiliki darah manis yang akan rentan terhadap gangguan gaib sehingga lebih baik dipingit di dalam rumah menjelang hari pernikahan. Dengan cara ini maka calon pengantin perempuan akan terlihat lebih manglingi sewaktu akad berlangsung, aura kecantikannya lebih terpancar. 

Proses pingitan ini dilakukan dalam tempo yang berbeda-beda, ada yang dilakukan 1 bulan sebelum hari pernikahan dan ada juga yang dilakukan 1 minggu sebelum hari pernikahan. Selama dipingit calon pengantin perempuan bisa mengisi waktunya dengan merawat diri, termasuk meminum minuman tradisional khusus atau bahkan berpuasa. 

Di zaman sekarang ini pingitan berubah menjadi pilihan bukan lagi keharusan sebab perempuan zaman sekarang aktivitasnya lebih padat, harus bekerja dan menyiapkan pernikahannya sendiri. Sehingga pingitan semakin sulit dilakukan.

Ada beberapa manfaat pingitan antara lain:

Untuk menjaga kebugaran calon pengantin supaya siap menghadapi pernikahannya yang seringkali berjalan sibuk dan menyita tenaga

Menumbuhkan rasa rindu diantara kedua calon pengantin

Memberikan kesempatan bagi calon pengantin perempuan untuk merawat diri

Sebagai suatu latihan bagi calon pengantin yang setelah berumah tangga berniat untuk mengabdikan dirinya dirumah

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline