Lihat ke Halaman Asli

Nabila Putri Syasabil

Mahasiswa Ilmu Sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Melihat Malaria pada Zaman Kolonial Tahun 1852-1937

Diperbarui: 19 Oktober 2020   23:06

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

gambar diambil dari republika.co.id

Malaria merupakan jenis penyakit yang menular secara massal. Malaria disebabkan karena adanya infeksi parasit yang dapat menular kepada manusia melalui gigitan nyamuk. Penyakit malaria banyak terjadi di daerah tropis, khususnya pedesaan.

Malaria ditemukan hampir di seluruh belahan dunia, terutama di negara-negara yang beriklim tropis dan subtropis. Penduduk yang beresiko terkena malaria berjumlah sekitar 2,3 miliar atau 41% dari populasi di dunia.

Foster dan Anderson (tahun 1978) dalam bukunya 'Medical Antropology' yang diterjemahkan oleh Priyanti Pakan Suryadarma, Meutia F, Hatta Swasono, (1986) menyebutkan bahwa para ahli antropologi kesehatan yang dari definisinya disebutkan berorientasi ke ekologi, menaruh perhatian pada hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan alamnya, tingkah laku penyakit-penyakitnya dan cara dimana tingkah laku penyakit mempengaruhi evolusi kebudayaan melalui proses umpan balik.

Laporan pertama kasus malaria di Indonesia pada masa Hindia-Belanda berasal dari tentara Belanda. Ia menyebutkan adanya wabah di Cirebon pada 1852-1854. Pemerintah Hindia Belanda mulai melakukan pemberantasan pada tahun 1911, namun pada kenyataannya baru dapat dilaksanakan tahun 1914.

Persepsi Masyarakat
Persepsi masyarakat mengenai suatu penyakit berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Persepsi yang timbul tergantung dengan budaya yang berkembang pada daerah tersebut. Persepsi kejadian penyakit yang berlawanan dengan ilmu kesehatan masih terjadi di masyarakat.

Sebelum ditemukan penyebab ilmiah, malaria biasanya dihubungkan dengan kutukan tuhan atau pembalasan iblis. Mitologi Cina menggambarkan tiga iblis, yang satu membawa palu, yang lain membawa ember berisi air dingin, dan yang lain membawa tungku api. Mereka melambangkan kelainan sakit kepala, menggigil, dan demam.

Selain penduduk Cina, penduduk Belanda di Batavia juga menyebut penyakit ini sebagai kutukan dan gangguan roh jahat seperti kesurupan.

Persepsi yang lain yaitu ketika penyakit malaria diobati dengan getah dari batang pohon kina yang sebenarnya beracun. Pada sebagian penduduk di Pulau Jawa,penderita panas yang sangat tinggi akan disiram air pada waktu malam hari.

Di lain hal, air putih yang telah diberikan ramuan serta mantra oleh dukun dan pemuka masyarakat diyakini dapat menyembuhkan penyakit malaria.

Persepsi masyarakat yang ada tersebut diperoleh dan didapat melalui penuturan secara turun temurun. Misalnya penyakit yang berupa kutukan dari Tuhan, makhluh gaib, roh-roh jahat, udara busuk, tanaman beracun, bianatang buas dan lain-lain.

Penanganan Malaria Era Kolonial
Menyadari bahwa penyakit malaria telah menjadi ancaman kesehatan rakyat di beberapa wilayah, maka pada tahun 1911, jawatan kesehatan sipil didirikan sebagai bentuk upaya penyelidikan dan pemberantasan penyakit malaria.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline