Lihat ke Halaman Asli

Manisya gula menuju 1 shawwal 1440 AH

Diperbarui: 4 Juni 2019   21:02

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Aku bahagia dan sempat sadar dan aku hanya seonggok daging yang tak berguna untukmu.

Aku tau aku bukan serdadu perang yang kalah atau menang meninggalkan luka.

Aku hanya ingin menyembuhkan segala luka yang tak terlihat membuatku tak melakukan apa-apa.

Aku memang bodoh aku memang tak tau diri mendekati mu dengan keadaan terburuku bertentangan karena aku tau kamu tak suka sesuatu yang menipu.

Aku datang apa adanya kamu mencampakanku bagaikan debu tepung ikan laut perairan laut dalam, di lidah anjing bermata satu yang pincang dan korengan di temani lalat hijau yang berterbangan.

Kau bandingkan aku dengan ke hebatan ketampanan dan ke piawaian seorang lelaki kau anggap saudara, sahabat, temanmu, kekasihmu apapun itu.

Aku tak ingin melukaimu atau bahkan memyusahkanmu namun segala harap aku ingin sembuh dari lukaku, tak terasa luka ku semakin parah karena pengabaianmu akan diriku.

Hanya kepentingan mu,hannya ke egoisan mu yang liar rakus tak terkendali menyalahkan ku dengan keadaan ku terluka ini, kau memang pintar keilmuan dan pengalaman dalam mendeteksi penyakitku namun kamu tidak mau mengobati lukaku.

Aku orang miskin aku orang tak memiliki tujuan,tak memiliki cita-cita, bahkan aku tak tau aku kemana surga atau neraka aku tak peduli, selagi hallal aku makan dan haram aku tinggalkan.

Namun kamu pergi meninggalkanku dengan segala data dan informasi kejelekanku yang kurang bermutu,yang berdasar keilmuanmu mendeteksiku.

Kau katakan berulang ulang tentang iman dan iman namun kamu lupa nafsumu selalu dominan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline