Lihat ke Halaman Asli

Muhammad Leksono

Semua karya yang tercipta dibantuan oleh secangkir teh.

Cerpen | Tamparan Sahabat

Diperbarui: 30 November 2019   11:55

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber gambar: nationalpost.com

Lonceng jam sudah berbunyi 3 kali, namun ia masih terjaga. Duduk di bale depan rumah sembari menadah ke atas langit malam yang hitam pekat. Hawa dingin sesekali meniup kepadanya masuk melalui pori-pori kulit yang tidak tertutup baju, namun tidak ia indahkan.

Raut wajahnya semakin lama semakin memupuk banyak sekali beban, raganya semakin lama semakin rapuh, jiwanya masih tidak menyangka akan semua kemalangan yang menimpa hidupnya.

Dalam benaknya dipenuhi oleh ingatan masa lalu; di mana kala itu untuk pertama kalinya ia belajar bersepeda dibantu oleh ayahnya; kenangan tawa ketika ia sedang naik biang lala bersama ibunya; canda yang selalu hadir ketika keluarganya berkumpul bersama.

"Andai Ibu dan Bapak masih ada" Ucap Ali seraya melihat langit malam yang begitu luas. Hamparan yang dipenuhi oleh banyaknya bintang terang benderang. Ramai tapi kosong.

"Aku rindu Ibu sama Bapak... Sekarang aku kesepian, Bu. Aku tidak punya lagi semangat hidup. Rasanya hampa hidup tanpa kalian. Dahulu, sebelum Bapak atau Ibu pergi, semua sepi yang aku rasa terasa ramai, namun sekarang berputar 180. Ramai sekarang, aku rasai hampa, sepi, juga kosong. Aku merasa hidup ini tidak sama lagi..."

Kecelakaan motor yang merenggut nyawa kedua malaikat tanpa sayap itu sungguh membuat jiwanya terguncang. Tanpa isyarat, tanpa tanda, tanpa peringatan, mereka berdua berpamitan menghadap Sang Illahi dan meninggalkan Ali seorang diri. Sudah 40 hari semenjak mereka berdua meninggalkan pemuda malang itu, tanpa adik ataupun kakak.

Banyak tetangga yang peduli padanya, tidak jarang menyumbang makanan setiap malam. Itu dikarenakan kedua orang tuanya dahulu adalah pribadi yang suka membantu sesama.

Sebenarnya Ali tidak mau dikasihani oleh orang lain, ia merasa mampu untuk menghadapi ini semua sendiri, namun tidak bisa ditutupi jiwanya benar-benar butuh dukungan, juga ucapan semangat. Salah satu orang yang selalu ada yaitu Fikri, sahabat sekaligus tetangga yang paling dekat dengan rumahnya.

Fikri sering menginap di rumah Ali, ia merasa tidak tega melihat sahabatnya memikul beban berat itu sendiri, saudara-saudaranya sudah kembali pulang ke kampung halamannya masing-masing, Fikri tidak sampai hati melihat sahabat kecilnya itu selalu melamun, hilang tawa, bahkan hilang semangat untuk hidup.

Sebisa mungkin ia mencoba menghidupkan kembali Ali, memberi sedikit demi sedikit nafas kehidupan, memberi masukan, memberi motivasi. Tidak jarang sikap Ali memberi respons menolak "Apaan sih... buat apa saya hidup, kalau orang yang sangat saya sayang sudah tiada !!" Ia memaklumkan, karena tahu emosi Ali pasti sedang tidak stabil, perlu waktu untuk beradaptasi menerima kenyataan yang ada.

"Sekarang aku sudah kerja, Pak. Kerja di pabrik, gajinya juga UMR, pasti Bapak banggakan? Karena anakmu ini tidak mengikuti jejakmu sebagai petani di lahan orang lain, diberi upah tidak sepadan dengan keringat yang bercucuran..."

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline