Lihat ke Halaman Asli

Muhammad Andi Firmansyah

TERVERIFIKASI

Mahasiswa Ilmu Politik

Mencari "Netizen Pancasilais" di Tengah Hiruk-pikuk Jagat Digital

Diperbarui: 1 Juni 2022   08:10

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pancasila harus mampu mengimbangi perkembangan zaman tanpa menghapuskan nilai-nilai luhurnya | Ilustrasi oleh Dading Gunadi via Kompas.com

Apa makna peringatan Hari Lahir Pancasila di tengah tren kehidupan yang sudah jauh berbeda dengan masa pencetusannya? Jika nilai-nilai Pancasila diyakini kebenarannya untuk menjadi pedoman segala aktivitas bangsa Indonesia, lantas bagaimana praktiknya hari ini?

Kedua pertanyaan itu muncul dalam benak saya dari adanya sebuah fakta menarik, bahkan tidak terhindarkan, bahwa jagat digital sudah bertransformasi menjadi suatu realitas tersendiri dan bukan lagi sekadar "dunia sampingan" di dalam kenyataan yang ada.

Konsekuensinya, aneka hiruk-pikuk yang terjadi di sana bukan hanya mempengaruhi realitas sehari-hari, tetapi seolah menjadi satu-kesatuan dimensi yang batasan-batasannya tidak lagi diindahkan. Sesederhana perkara saling mengkritik di kolom komentar, keesokannya sudah saling menuduh di meja pengadilan.

Kendati begitu, sebelum melontarkan argumen apa pun, pertama-tama saya ingin melihat dan menilai fenomena ini sebagai sesuatu yang netral. Dengan kata lain, saya mengibaratkannya seperti lahan kosong yang dapat ditanami segala macam tumbuhan.

Tentu dari sekian banyaknya yang nanti bertumbuh subur, besar kemungkinan tidak semua buahnya layak dimakan atau menyehatkan. Beberapa di antaranya mungkin mengandung racun, sebagian terlanjur membusuk, dan sisanya hanyalah parasit.

Melalui kacamata ini, cukup adil kiranya untuk menegaskan bahwa kemunculan dunia maya sebagai "realitas baru" bagi keseharian kita, telah memungkinkan rupa-rupa peluang untuk memperkenalkan identitas dan kesejatian kita kepada dunia.

Saya tidak semata-mata memaknai peluang ini sebagai cara mutakhir untuk menunjukkan rasa bangga terhadap bangsa sendiri. 

Lebih dari itu, pengenalan identitas mencerminkan isyarat sakral bahwa sebagai sebuah bangsa besar, di samping betapa banyaknya pilihan, Pancasila adalah jalan hidup yang kita putuskan; maka inilah fondasi filsafat kehidupan kita.

Sikap demikian pastinya memerlukan penafsiran lebih jauh agar tidak disalahpahami, apalagi dilebih-lebihkan. Tetapi, sesuai pertanyaan utama yang diajukan sebelumnya, saya tidak akan memperdalam persoalan national-esteem ataupun pembelaan terhadap Pancasila dibanding paham-paham yang lain.

Saya juga tidak akan menguraikan sila-sila Pancasila satu per satu dan lalu mengaitkannya dengan aneka problematika di jagat digital; banyak orang sudah melakukan itu, termasuk dalam kajian-kajian akademik.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline