Lihat ke Halaman Asli

Muhammad Andi Firmansyah

TERVERIFIKASI

Mahasiswa Ilmu Politik

Cara Menjadi Dewasa dalam Perspektif Immanuel Kant

Diperbarui: 24 Desember 2021   17:13

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Di satu titik tertentu, kedewasaan tidak ada hubungannya sama sekali dengan usia | Ilustrasi oleh Anastasia Gepp via Pixabay

Seorang raja mengumumkan kepada rakyatnya bahwa nanti malam akan diadakan pesta besar dan setiap orang yang datang diwajibkan membawa satu sendok madu. Di pintu masuk alun-alun, disediakan sebuah guci besar yang akan menampung semua madu tersebut.

Seseorang berpikir untuk mengisi sendoknya dengan air putih saja, toh takaran sekecil itu tidak akan menampakkan pengaruh apa pun terhadap keseluruhan isi guci. Bagi Immanuel Kant, tindakan satu orang ini tidak dapat dibenarkan.

Bagaimana kalau semua orang juga berpikir seperti itu? Ujung-ujungnya, guci besar tersebut malah terisi penuh dengan air putih.

Tindakan semacam itu adalah tindakan yang kekanak-kanakan. Sama seperti seorang anak yang tidak mau berbagi mainan miliknya, itu adalah tindakan yang egois. Meskipun sifat tersebut melekat secara wajar pada anak-anak, tetapi pada banyak kasus, mereka yang berusia dewasa pun tetap melakukannya.

Sekarang bagaimana jadinya bila orang tersebut mengalahkan kehendaknya sendiri dan secara jujur membawa sesendok madu ke pesta kerajaan; apakah dia termasuk orang dewasa? Belum tentu juga.

Dalam Grundlegung, Kant merumuskan bahwa tidak ada hal lain yang baik secara mutlak selain "kehendak baik". Menurutnya, "kehendak baik" adalah sesuatu yang baik pada dirinya (an sich) atau tidak tergantung pada yang lain.

Dengan demikian, terdapat juga kehendak yang tidak baik pada dirinya meskipun secara implementasi menunjukkan kebaikan tertentu. Misalnya, saya membantu orang supaya di lain waktu dia juga membantu saya ketika kesusahan.

Kehendak baik adalah sesuatu yang baik pada dirinya; tanpa pamrih dan tanpa syarat.

Jadi bila kita ingin menilai kedewasaan di antara semua orang yang membawa madu ke pesta kerajaan, orang yang membawa madu tanpa harapanlah yang menunjukkan kedewasaannya. Dia melakukan itu karena dia tahu bahwa tindakannya adalah benar; hanya itu.

Seseorang bisa saja membawa madu, tetapi jauh dalam lubuk hatinya, dia berharap bisa mendapatkan sesuatu yang lebih besar dari apa yang dikorbankannya (yaitu sesendok madu) di pesta kerajaan tersebut. Dalam etika Kant, dia belum mencapai kedewasaan.

Etika Niat Baik

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline