Lihat ke Halaman Asli

Muh Almubarak

Mulai dari awal

Manusia Modern dan Mengenal Diri

Diperbarui: 21 Juni 2021   00:26

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Dibawah tekanan cepatnya informasi yang berseliweran di sosial media tidak sedikit dari kita yang terseret ke dalam pusaran kecepatan sehingga menurunkan daya kritis, analisis dan perenungan kita atas informasi yang kita terima. Di sisi lain fenomena kecepatan ini juga turut andil menggerus waktu dan kesadaran kita untuk bertafakkur dan mema'rifati diri sebagai jalan untuk memahami si lahiriah agama dan dimensi batin agama guna mendekatkan diri kepada Al-Khalik.

Mengenal diri (ma'rifat an-nafs) adalah salah satu hal yang mendesak dan menjadi kebu tuhan dasar batin manusia dari gejala empirisme dan materialisme yang menumpulkan sisi ruhani manusia. Nampak gemuruh dari seruan untuk kembali pada Al-Quran dan As-sunnah serta beragama secara kaffah dari para muballigh pada umumnya, hal ini mungkin tidak berbanding lurus dengan seruan untuk kembali mentafakkuri dan mema'rifati diri, sehingga model keberagamaan manusia seperti ini, nampak mengalami pendakalan makna batin dan kemarau spiritual, mungkin tidak berlebihan jika kita memandangnya sebagai syndrome manusia modern yang mesti di pecahkan dan di temukan jalan keluarnya. 

Setiap manusia, sejatinya berbuat demi meraih kesempurnaan dan kebahagiaan jiwanya, Mulai dari tuntutan material, intelektual, hingga spiritual semua ini di anggap sebagai dorongan instingtif dan fitrawi pada jiwa manusia guna menemukan keseimbangan dan kebahagiaan hidupnya. Lantas apa kepentingan manusia kembali kepada diri atau mengenal diri ? 

Hal ini di sebabkan segenap aktifitas manusia memiliki pijakan, mukaddimah, pondasi, dan landasan aktifitasnya pada diri (jiwa) mereka sendiri. Di sisi lain manusia sebagai subjek yang memiliki kehendak, kebebasan dan kesadaran berkonsekuensi munculnya tanggung jawab atas segenap apa yang mereka pilih dan perbuat.

Bertalian dengan itu, apakah misi para Nabi itu selaras dengan jiwa manusia? pakah seruan untuk menegakkan dan mencintai keadilan adalah hal yang berkoresponden dengan jiwa manusia? Apakah pada diri manusia memiliki semacam benih yang akan tumbuh menjadi kesadaran untuk beragama dan bertuhan? Ataukah seperti tudingan dari materialisme yang berkembang di eropa bahwa kesadaran religius manusia hanyalah konstruksi ekternal dari masyarakat dan sejarah saja? Dari persoalan-persoalan filosofis ini menjadi dasar akan kebutuhan manusia untuk kembali kepada diri guna menumukan akar kemanusiaannya lewat mengenal diri. 

Selain dari pada tuntutan filosofis, Makrifat An - Nafs juga merupakan perintah yang imperatif di dalam ajaran Islam seperti yang tercermin pada (Qs : Adz-Dzariyat ) bahwa Allah SWT setelah mengajak manusia untuk memperhatikan tanda - tanda kebesaran-Nya yang terhampar di alam raya, kemudian mengajak manusia untuk mengenal tanda - tanda kebesaran-Nya di dalam jiwa manusia itu sendiri. Sejalan dengan pentingnya Makrifat an - nafs juga di tekankan oleh Nabi Muhammad SAW beliau bersabda barang siapa yang telah mengenal dirinya (Mak'rifat An-Nafs), Maka ia sungguh mengenal Tuhannya.

Dalam tradisi intelektual dan spiritual islam, Makrifat an-nafs menjadi perhatian dan apresiasi, bahkan dianggap sebagai ukuran prestasi dan capaian kemanusiaan bagi mereka yang sedang menjalani proses pencarian hakikat diri dan agama, seperti ungkapan Sayyidina Ali KW. "Bahwa capaian terbesar seseorang manakala ia telah berjaya dalam mengenal dirinya (Ma'rifat An- Nafs)".

Dengan demikian Ma'rifat An nafs di samp ing sebagai sarana untuk menemukan dan memahami akar dan hubungan antara Kemanusiaan, agama dan Tuhan, di sisi lain Makrifat An-Nafs sebagai pondasi Intelektual untuk memasuki level spiritual Makrifatullah melalui penyucian jiwa (Tadzkiyat An -Nafs).

Dalam rangka menemukan dan mengenali kesejatian diri manusia (Fitrah) berdasarkan pemetaan Syahid Muthahhari dan Prof. Taqi Misbah Yazdi dalam bedah tuntas fitrah dan Jagad diri, kita akan menemukan kerinduan, kehendak dan kedekatan sebagai unsur yang suci pada diri manusia, sebagai faktor pen dorong kecendrungan spiritual dan ibadah manusia.

Pada jiwa manusia terkandung kerinduan, kerinduan merupakan daya dorong yang membuat manusia senantiasa menginginkan perjumpaan (Liqa') dengan objek yang di rindukannya. Meskipun demikian, para psikolog umumnya memandang persoalan ini hanyalah sekadar gejala psikis dari kecendrungan seksualitas pada diri manusia. 

Namun berbe da dari pandangan para arif bahwa kerinduan yang menuntut perjumpaan fisik merupakan efek dari kerinduan kepada Dzat yang Tetap dan Mutlak. Dari hal ini nampak dalam kerinduan manusia setelah mengalami perjumpaan fisik, jiwa manusia senantiasa bergerak mencari dan memuaskan dahaga kerinduan nya. Olehnya, kerinduan yang hakiki merupakan jenis kerinduan manusia kepada yang Mutlak yakni Allah SWT melalui Ibadah. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline