Lihat ke Halaman Asli

Pergerakan Nasional Sebagai Fenomena Internasional

Diperbarui: 3 Juli 2019   00:53

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

wikimedia

Sejarah pergerakan nasional di Hindia Belanda (Indonesia) yang mengemuka pada pertengahan awal abad ke 20 tak pernah lepas dari dinamika politik internasional. Kenyataan ini yang seringkali dilupakan dan jarang diungkap dalam historiografi nasional. 

Narasi sejarah yang ada hanya mengungkapkan bahwa pergerakan nasional Indonesia merupakan reaksi atas kolonialisme Belanda. Bahkan, yang lebih sempit dari ini, di dalam penulisan sejarah nasional, adalah, anakronisme yang pada selalu disebutkan adanya kontinuitas historis antara perlawan terhadap rezim kolonial Belanda di zaman Pangeran Diponegoro dan perlawanan pribumi serupa yang ditandai dengan kelahiran pergerakan nasional Indonesia pada masa kemudian.

Belum banyak studi yang mengangkat keterkaitan politik internasional dengan pergerakan nasional Indonesia. Dari sekian studi yang melakukan kajian terhadap dunia kolonial Hindia Belanda pada awal abad ke 20, hanya studi kemunculan komunisme yang ditulis oleh Ruth T. Mc Vey lah yang pantas mendapat apresiasi.

Mc. Vey yang menulis buku berjudul “The Rise Comunism in Indonesia” memperlihatkan kemunculan komunisme yang semula berwujud organisasi buruh kereta api (VSTP) bermetamorfosa menjadi PKI (Partai Komunis Indonesia) setelah keterlibatan orang Indonesia di dalam Komitern (organisasi komunis internasional). Kemunculan komunisme harus dilihat tidak hanya sebagai reaksi atas kapitalisme yang ditopang oleh imperialisme Belanda, melainkan juga keputusan rapat-rapat komitern yang berpusat di Rusia.

Selain kemunculan komunisme, kelahiran organisasi pergerakan nasional, baik politik maupun non-politik, tak sedikit dipengaruhi oleh perkembangan dunia pada waktu itu. Dalam konteks persemaian ide nasionalisme, pergerakan nasional Indonesia merupakan satu dari sekian benih nasionalisme yang juga ditebar di Cina oleh Dr. Sun Yat Sen, kemudian di Filipina oleh sang martir yang sangat terkenal Jose Rizal. 

Dalam konteks pergerakan yang lain, gerakan modernisme islam, pada saat yang sama, merupakan reaksi masyarakat islam Indonesia terhadap gejolak pembaruan islam yang terjadi di Mesir di bawah Jamalludin Al- Afghani, Muhamad Abduh, dan Rasyid Redha. Deliar Noer dalam disertasinya yang berjudul Gerakan Modern Islam di Indonesia mengukapkan betapa pengaruh pembaruan islam di Mesir, Turki, dan penyerangan kaum wahabi di Mekah sangat menetukan bagi apa yang dinamakan Harry J. Benda sebagai “renaisans islam” di Indonesia.

Dari realitas historis di atas terlihat bahwa wacana pergerakan nasional khususnya dan perubahan politik Hindia Belanda pada umumnya, tak pernah lepas dari perkembangan sejarah dunia. Satu dan yang lain saling mempengaruhi. Dalam tulisan ini saya akan mengungkapkan bagaimana wacana fasisme yang menggemparkan Eropa dan bahkan dunia pada tahun 1930-an sampai berakhirnya perang dunia II juga menjadi bahan perdebatan bagi kalangan pergerakan nasional di Hindia Belanda. 

Demam fasisme yang melanda Jerman, Italia, dan Jepang, ternyata menarik perhatian sebagian besar kalangan pergerakan nasional yang sedang mengalami kemandekan akibat sikap represif pemerintah kolonial Belanda dan depresi ekonomi yang begitu menyengsarakan. 

Pada saat situasi pergerakan hampir tak tertolong lagi, sebagian dari mereka ada yang percaya bahwa gerakan fasis dapat membantu mereka dalam usaha melepaskan diri dari cengkraman kolonialisme Belanda. Sedangkan yang lain lagi, justru ketakutan dan bersuara menghimbau bahwa fasisme adalah ancaman yang lebih besar ketimbang kolonialisme. Mereka yang anti-fasis mengatakan bahwa fasis adalah musuh utama bagi sosialisme dan demokrasi yang dicita-citakan bangsa Indonesia.

Periode ini diwarnai dengan tanggapan-tanggapan serius kalangan pergerakan terhadap kemunculan fasisme. Beberapa tokoh menyuarakan imbauan “bahaya” fasisme di surat-surat kabar. Pada saat bersamaan, kelompok yang terpikat oleh fasisme mendirikan organisasi-organisasi fasis. Di Hindia Belanda terdapat tiga organisasi fasis yang cukup populer dan sempat membuat masyarakat gusar, yakni Nederland Indies Fascist Organisatie (NIFO), FU, dan Partai Fasist Indonesia (PFI).

Fasisme dan Kemunculanya di Eropa

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline