Lihat ke Halaman Asli

"Dua Garis Biru" Keluar dari Kelaziman Film Remaja

Diperbarui: 7 Agustus 2019   10:14

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tampaknya pengalaman menjadi seorang penulis skenario di banyak film box office Indonesia mengajarkan Gina S. Noer jeli dalam menangkap realitas untuk dikonstruksi menjadi sebuah film. Pengalaman itu pula yang mengajarkan dia lebih detail dalam urusan teknis film sehingga antara cerita dan sinematografi benar-benar menyatu. Tak ada adegan yang sia-sia sepanjang cerita. Inilah yang tergambar dalam film Dua Garis Biru, karya pertama Gina S. Noer sebagai seorang sutradara film.

Sekilas melihat judul dan poster film ini serupa dengan film-film remaja lainnya yang jamak menganggap bahwa pacaran bebas saat SMA adalah lumrah sehingga mengabaikan bahaya yang mengancam masa depan mereka, fisik maupun mental. 

Sentuhan film Dua Garis Biru berbeda dari sebagian besar film remaja. Film ini secara gamblang memperlihatkan bagaimana seorang remaja harus menanggung beban yang sangat berat akibat  minimnya pendidikan tentang seks, reproduksi, komunikasi dengan keluarga, dan pergaulan remaja.

Kendati sarat dengan pesan edukasi, film Dua Garis Biru sama sekali  tak ada kesan menggurui. Ceritanya mengalir sebagaimana tampak pada realitas remaja SMA saat ini. Tak ada cerita atau adegan hiperealitas seperti jamak dilihat dalam sinetron dan film remaja. Misalnya, berebut pacar, aksi bullying kepada seorang siswa yang dianggap bermasalah, atau sebaliknya mengagumi  kesempurnaan dan ketampanan siswa atau guru di sekolah. 

Gina seolah sadar bahwa dia harus keluar dari kerumunan cerita-cerita basi seperti itu. Inilah tantangan Gina bahwa sebuah film remaja yang menarik tidak selalu mengusung cerita yang banyak dikonsumsi pasar.

Di sisi lain, penulis naskah film Habibie dan Ainun itu juga ingin menegaskan bahwa tak semua remaja bermasalah, berasal dari orang tua yang bermasalah pula (broken home) seperti perceraian, ditinggal mati salah satu atau kedua orang tua, serta kesibukan kerja bapak dan ibunya di luar rumah.  

Di film Dua Garis Biru, Gina menggambarkan bahwa remaja bermasalah justru berasal dari keluarga yang tampaknya baik-baik saja. Tapi karena kurangnya pendidikan sejak dini, terutama tentang seks dan reproduksi yang selama ini dianggap tabu untuk dibicarakan, membuat sejumlah remaja terlena dengan pergaulan bebas dan mengakibatkan penderitaan yang tak berkesudahan. 

Tokoh Bima (Angga Yunanda) dan Dara (Adhisty Zara) adalah representasi remaja yang digambarkan Gina dalam persoalan tersebut. Bima adalah remaja miskin dengan kedua orang tua yang tampak harmonis. Hal ini bisa dilihat dari keseharian kedua orang tua Bima yang tampak rukun dan damai meskipun harus tinggal di rumah sempit di perkampungan kumuh, Jakarta. 

Kesungguhan Orang tua Bima dalam mendidik keluarga juga tampak dalam menyekolahkan anak pertamanya, Dewi (Rachel Amanda) di perguruan tinggi terkemuka di Bandung, meskipun itu dilakukan sebelum sang Ayah (Arswendy Bening Swara) pensiun.

Ibu Bima, Cut Mini (Cut Mini Theo) digambarkan sebagai sosok perempuan tangguh yang taat beragama. Dia jualan jajanan 'gorengan' di kampungnya sejak suaminya pensiun dari tempat kerjanya. Kendati demikian, dalam hal komunikasi dan pergaulan, dia merasa gagal mendidik anaknya. Bima telah melanggar batas pacaran yang menyebabkan Dara hamil di luar nikah. 

Dara adalah seorang gadis remaja dari keluarga kelas menengah atas. Ayah Dara, David (Dwi Sasono) adalah pengusaha restoran. Ibu Dara, Rika (Lulu Tobing) adalah wanita karier. Kendati demikian, keluarga ini tampak  harmonis. Tak jarang mereka berkumpul sekalipun tak seintens keluarga Bima.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline