Lihat ke Halaman Asli

Berawal dari Muhadharah Hingga Menjadi Dai Profesional

Diperbarui: 10 Januari 2024   19:13

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber Steemit

Di setiap malam minggu yang riang dan nyaman, para santri dayah babul ulum, setelah mengikuti pengajian bersama disertai dengan shalat insya berjamaah bersama-sama dimusalla Pesantren. Kewajiban muhazarah pun dilakukan oleh setiap kafilah yang ada dipesantren. 

Malam itu, ketua kafilah membunyikan lonceng yang pertanda bahwa seluruh santri sudah saatnya menuju ke kafilah masing-masing untuk mengikuti acara muhadharah.

Seperti yang kita ketahui Muhadharah dalam bahasa arab yang artinya menyampaikan materi atau berpidato. Yang mana santri dituntutkan untuk menyampaikan isi pidatonya dengan judul yang sudah ditentukan oleh ketua muhadharah.

Jam sudah menunjukan jam 21:30 acara pun dimulai oleh protokol. Acara pun berjalan mulai dari pembacaan Ayat suci Al-Qur'an dan diringin dengan shalawat kepada nabi dengan suara yang begitu indah. Dan juga dihibur dengan Qasidah-qasidah yang modern.

Pada Acara selanjutnya, nama saya pun dipanggil untuk menyampaikan isi pidato, badan terasa lemas,  tanganpun gemetar saat pengang mic. Disitu saya memberanikan diri untuk menyampaikan bahan yang sudah saya persiapkan selama seminggu yang lalu.

Dipertengahan pidato, saya sedikit lupa dengan isi ceramah saya, hingga membuat saya menjadi gematar melihat tatapan kawan yang begitu tajam ada juga yang menertawakan saya sambil menutup mulutnya dengan tangan. Saya mencoba untuk berusaha mengingat kembali isi pidato saya dan apa yang terjadi? Saya berhasil kembali menguasai isi pidato saya sampai sesaui dengan target waktu saya selama 15 menit.

Waktunya libur panjang dipesantren, saya pun mudik ke kampung halaman saya. Sudah beberapa hari saya dikampung saya pun mulai mengaplikasikan ilmu yang saya pelajari selama dipesantren.

Target saya pertama sekali adalah untuk keluarga sendiri dimana saya mulai mengajarkan adik saya bagaimana tata cara mengaji Al-Quran.

Hari terus berlalu hingga sampailah pada hari jum'at dimana seluruh kaum muslim berkumpul dimasjid untuk melaksanakan shalat Jumat secara berjamaah. Azan pertama dikumandangkan pertanda bahwa sebentar lagi sudah mulai Khatib untuk naik ke atas mimbar untuk memberikan nasehat dan membaca rukun khutbah.

Apa yang terjadi? Khatib yang berkhutbah hari ini ternyata dalam keadaan berhalangan tidak dapat hadir. Imam mesjid pun mulai bingung untuk mencari pengganti Khatib. Imam mesjidpun mulai mendekati saya, lalu membisikan bahwa saya disuruh untuk menjadi pengganti Khatib.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline