Lihat ke Halaman Asli

Meliana Aryuni

Penulis pemula yang ingin banyak tahu tentang kepenulisan.

Menyontek, Perilaku Salah yang Membudaya

Diperbarui: 2 Desember 2022   15:38

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Diambil dari beritagar.id

Ujian dan menyontek seakan menjadi satu kesatuan yang harus dipelajari terus. Anak SD pun sudah melakukan perilaku curang ini. Mereka seringkali melakukannya dengan alasan kepepet padahal perkiraan ujian telah jauh hari dikabarkan oleh guru di kelas.

Bila diusahakan belajar jauh hari sebelum ujian, maka tidak pernah akan ada dibenak kata menyontek. Menyontek yang awalnya dilakukan dengan penuh ketakutan, akhirnya menjadi kebiasaan. Para siswa dengan gampangnya mendapatkan nilai yang diinginkan tanpa belajar. Lantas apakah benar siswa yang menyontek ini tidak pandai?

Menyontek itu Soal Percaya Diri


Penelitian yang saya angkat pada skripsi saya 17 tahun yang lalu bermula dari melihat kondisi teman-teman kuliah. Di antara teman kuliah itu, hanya saya dan satu orang lagi yang tidak melakukan perbuatan ini. Sangat disayangkan, kemampuan mereka tertindas oleh keinginan untuk mendapatkan nilai besar dengan cara mudah meskipun itu adalah kecurangan yang nyata.

Secara nyata, saya tahu bahwa teman-teman kuliah saya itu bukannya orang yang 'bodoh'. Terlihat ketika mereka melakukan diskusi di depan kelas. Artinya, kemampuan mereka untuk menjawab persoalan itu ada. Hanya karena tidak percaya diri pada kemampuan menjawab membuat mereka melakukannya saat ujian.

Sebab Menyontek


Telah kita ketahui bahwa pada jenjang pendidikan dasar, banyak anak-anak SD telah melakukannya. Mulai dari menulis di selembar kertas, menulis di tangan atau kaki, pura-pura ke kamar mandi padahal berusaha mencari jawaban, memberi tahu jawaban dengan teman melalui kode-kode tertentu, atau membuka buku langsung dari laci. Semua usaha itu adalah salah dan tidak pantas dilakukan oleh seseorang yang dinamakan terpelajar.

Keinginan untuk mendapatkan nilai yang baik dan ketakutan mendapatkan nilai buruk adalah alasan seseorang menyontek. Bahkan ada juga yang beralasan bahwa jika nilainya buruk, maka orang tua akan memarahinya. Ketakutan ini akhirnya membuat seorang anak tertekan sebelum ujian. Padahal seharusnya saat ujian, psikologis anak-anak sudah dalam keadaan tenang.

Segelintir orang seperti saya dianggap 'aneh'. Di saat semua orang melakukan kecurangan, saya tidak melakukannya. Dulu, saya pernah ingin menyontek. Tangan saya sudah berada di dalam laci. Namun, saat hendak membuka lembaran itu, tubuh saya bergetar hebat. Saya sangat ketakutan sehingga saya membiarkan buku itu berada di laci sampai ujian selesai.

Mencontek Bukan Masalah Nilai

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline