Lihat ke Halaman Asli

Meidy Y. Tinangon

Komisioner KPU Sulut | Penikmat Literasi | Verba Volant, Scripta Manent (kata-kata terbang, tulisan abadi)

[100]* Akar Kultural Pancasila di Bumi Minahasa dan Sulawesi Utara

Diperbarui: 1 Juni 2020   06:35

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

|"Pakaian Tari Kawasaran di Minahasa" || sumber: kingsdish.nl  via minahasa.xyz | 

Sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan, lima bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa - namanya ialah Pancasila. Sila artinya asas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi. 

-----(Soekarno dalam Pidato  dalam sidang  Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan/Dokuritsu Junbi Cosakai, 1 Juni 1945)**

Pancasila atau lima asas/dasar bernegara Indonesia menurut Soekarno dalam Pidatonya, 1 Juni 1945, bagi saya mengandung arti bahwa Pancasila haruslah mengakar dalam kultur atau kebudayaan rakyat Indonesia yang beranekaragam. Jika Pancasila tak berakar dalam kultur masyarakatnya maka pohon ke-Indonesiaan tidak akan tumbuh, berkembang dan berbuah secara berkelanjutan (sustainable), atau  kekal dan abadi menurut Bung Karno.

Sebagai bagian dari anak bangsa yang lahir, bertumbuh-kembang dan tinggal di tanah Minahasa Provinsi Sulawesi Utara yang merupakan bagian dari Indonesia, menjadi kewajiban moral untuk senantiasa merefleksikan dan turut memperkuat akar Pancasila demi kokohnya Pohon Ke-Indonesiaan. Refleksi itu dapat kita mulai dari kultur masyarakat di mana kita mengada. 

Uraian berikut mencoba memberikan deskripsi singkat, bagaimana Pancasila menjadi akar dalam kultur kehidupan rakyat di Minahasa dan Sulawesi Utara. 

1. Ketuhanan Yang Maha Esa: Dari Toleransi hingga BKSAUA

Masyarakat Minahasa merupakan masyarakat yang terbuka, karena keterbukaannya sejak dahulu, maka agama-agama dengan mudahnya masuk dan berkembang, menggantikan kepercayaan lokal. Minahasa yang awalnya identik dengan agama Kristen karena sebagaian besar penduduknya memeluk agama Kristen, tidak bersifat tertutup terhadap agama lainnya, jauh sebelum kelahiran Pancasila.  

Salah satu contoh konkrit dapat dilihat dari sejarah berdirinya Kampang Jawa (Jaton) di Kota Tondano Ibukota Kabupaten Minahasa yang juga merupakan sejarah kehadiran Islam di Minahasa.  Sebagaimana sempat saya uraikan dalam artikel sebelumnya berjudul: Ingat Lebaran, Ingat Kampung Jawa Tondano dan 3 Ciri Khasnya. Sejarah Jaton berawal dari ditangkapnya Kyai Modjo yang merupakan Penasehat Agama sekaligus Panglima perang dari Pangeran Diponegoro pada Perang Jawa (1825-1830), pada tahun 1828.  Kyai Modjo kemudian dibawa ke Batavia, selanjutnya bersama 63 orang pengikutnya diasingkan Belanda sebagai tahanan politik ke Minahasa Sulawesi Utara. Kyai Mojo tiba di Tondano pada tahun 1829 hingga meninggal di sana pada tanggal 20 Desember 1848. Saat ini Jaton tetap eksis berdampingan dengan kampung-kampung lainnya dengan damai.

Toleransi antar umat beragama sangat terjaga di Minahasa dan Sulawesi Utara (Sulut) pada umumnya. Selain karena kesadaran bottom-up, juga karena secara kelembagaan institusi agama di Sulut mampu menghadirkan sebuah wadah komunikasi dan dialog antar umat beragama yang diberi nama Badan Kerjasama Antar Umat Beragama (BKSAUA) pada 25 Juli 1969 berdasarkan Surat Keputusan Gubernur No 91/KPTS/1969. Lembaga ini hadir hingga ke tingkat Desa/Kelurahan, jauh sebelum hadirnya lembaga serupa bersifat nasional, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) 27 September 2007 melalui pertemuan antara para tokoh agama dan pemimpin majelis keagamaan serta pengurus BKSAUA Sulut.

Kultur toleransi kehidupan umat beragama di Minahasa dan Sulut yang demikian kuat,  merupakan akar kultural sila pertama Pancasila.

2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab:  Si Tou Timou Tumou Tou

Filosofi kemanusiaan tou (orang) Minahasa yang diperkenalkan salah satu founding father Bangsa Indonesia, Sam Ratulangi yaitu Si Tou Timou Tumou Tou menjadi kekuatan kultural sila kedua Pancasila.  Si Tou Timou Tumou Tou atau sering disingkat ST4, artinya Manusia itu hidup untuk memanusiakan (menghidupkan) manusia lainnya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline