Lihat ke Halaman Asli

Surat Elektronik untuk Bapak Menteri

Diperbarui: 2 April 2018   09:07

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Entah kepada siapa lagi saya harus menyampaikan hal ini. Tentang kegalauan hati saya sebagai orang tua, saat melihat kebiasaan anak saya yang tak kunjung menunjukkan tanda-tanda mencintai buku. Barangkali dengan cara mengirim surat kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, kegalauan saya ini akan mereda. Atau, setidaknya itu akan mengurangi rasa sesak di dada ini. Syukur-syukur ia bisa memberi solusi. Bukankah ia juga seorang ayah bagi putra-putrinya?

Mungkin saya tidak sendirian. Masih banyak orang tua seperti saya, yang mengalami hal serupa. Tentu saya senang jika ia sudi menjawab surat elektronik ini atau memberi tanggapan melalui pesan singkat. Kalau pun ia memilih untuk diam dan tidak menjawab, bagi saya juga tak jadi soal. Dan, saya akan tetap menyimpan surat ini di folder komputer saya. Siapa tahu kelak ada guna manfaatnya.

Akhirnya saya putuskan tetap mengirim surat elektronik itu. Isi lengkapnya seperti ini:

Yth. Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Assalamu 'Alaikum Wr. Wb.

Semoga Bapak Menteri senantiasa sehat dan sukses selalu. Amin.

Pak Menteri, seperti bunyi whatsapp yang pernah Bapak kirim kepada saya bahwa ternyata Bapak adalah senior saya di perguruan silat ketika dulu kita sama-sama masih tinggal di kampung. Dua guru silat Bapak adalah orang yang sama, dan menjadi guru silat saya juga. Dalam kesehariannya kedua guru silat kita, berprofesi sebagai guru agama di Sekolah Dasar.

Guru pertama kita, akhirnya menjadi guru besar pencak silat hingga akhir hayatnya. Ia wafat ketika sedang duduk tafakur di sebuah acara serasehan dunia persilatan. Dunia yang begitu ia cintai.

Guru kedua kita, memilih jalan sufi; dengan menjadi kyai yang memiliki kelebihan dalam ilmu hikmah. Ia terbiasa mengupas sebuah topik kajian sampai ke putih tulang. Guru kita ini mangkat ketika usianya belum genap 40 tahun.

Pak Menteri, kita pernah menyerap ilmu yang sama dan dari guru yang sama. Kita adalah saudara seperguruan. Tapi, bukan karena itu, saya mengirim surat ini.

Apa yang salah jika sebagai warga negara, saya mengirim surat kepada seorang Menteri?

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline