Lihat ke Halaman Asli

Karena Bulutangkis Bukan Sepakbola

Diperbarui: 19 Oktober 2015   07:53

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Olahraga. Sumber ilustrasi: FREEPIK

Selentingan banyak beredar di media sosial. Ada yang ngebandingin euforia final piala presiden yang nggak sebanding dengan bencana asap. Beberapa mengkritik suporter yang menghabiskan uang cukup banyak untuk mendukung tim kesayangan mereka dengan membeli atribut, tiket, dan biaya transport padahal dapur masih belum ngebul. 

Sebelum ngalor ngidul lebih panjang, saya tutup diskusi di atas dengan mengutip pernyataan salah satu netizen. “Semua perbandingan itu harusnya apple to apple ya cyiiiin”. maksudnya jangan ngebandingin sesuatu yang variabelnya beda. Kalau olahraga ya sama olahraga misalnya :D

 Pada saat bobotoh teriak “GOOOLLL” ketika Ahmad Jupriyanto mencetak gol pertama untuk persib, tahukah kamu kalau INDONESIA baru beberapa detik sebelumnya meraih 4 gelar juara dari 5 gelar yang diperebutkan di Taiwan Terbuka? TIDAK / TAHU. 

Pada saat half time persib vs sriwijaya, tahukah kamu bahwa ganda campuran dan tunggal putra INDONESIA sedang bertanding di final kejuaraan Denmark Open Super Series Premier, yaitu kejuaran bulutangkis paling bergengsi di dunia? TIDAK / TAHU. 

Entah siapa yang paling bertanggung jawab atas ketidaktahuan kita tentang kondisi perbulutangkisan Indonesia. Entah itu media yang melulu membahas sepakbola dan bukannya tentang bulutangkis? Atau pemerintah yang terlalu fokus pada pengembangan sepakbola (sampai-sampai ada wacana #OVOF atau One Village, One Field)? 

Eh tapi kan, mereka menentukan objek berita atau fokus anggaran berdasarkan apa yang masyarakat mau? IYA KAN? kalau gitu yang SALAH kita dong? sampe-sampe ada atlet kita yang lagi tanding di kejuaraan bergengsi, kita nontonnya musti streaming atau lewat tv berbayar. Itupun kalau punya modal, kalau enggak mentok-mentok live tweet dari akun fan page. 

Kalau ditelisik lagi, apa sih sebenernya yang bisa dibanggain dari persepakbolaan Indonesia. Prestasi lokal aja nihil, apalagi internasional. Mungkin satu-satunya yang bisa dibanggain adalah suporternya yang sangat banyak sampe jadi pasar bagi klub-klub top eropa. sekedar pasar. Atau paling tinggi pas Indonesia (baca: Hindia Belanda) tampil di Piala Dunia tahun 1938 di Perancis, itupun karena Jepang nggak mau ikutan. Itupun langsung dibantai 6-0 ama Hungaria. Mau ngebanggain PSSI? Ribut mulu. Rusuh Mulu. Nggak pernah bener. Mau ngebanggain klub-klubnya? Manajemen buruk, banyak pemain telat digaji. 

Yah lagi-lagi yang bagus dari persepakbolaan Indonesia adalah animo suporternya yang tinggi. titik.

Dibandingin dengan prestasi bulutangkis, sepakbola kalah jauh. Sejelek apapun pbsi, sesedikit suporter, seminim-minimnya ongkos biaya untuk ikut kejuaraan di luar negeri, PRESTASI ATLETNYA TETAP BAGUS (cek google kalau nggak percaya, red). 

sebagai perbandingan, Ingat krisis 1998? saat itu kondisi negara sedang nggak stabil. ekonomi carut marut. tapi apa yang terjadi ama Atlet Bulutangkis Indonesia? Mereka ngebawa pulang Piala Thomas Cup. 

Itu secuil banget contoh prestasi atlet Bulutangkis Indonesia. Tau Rudy Hartono? TAHU. Beliau mencatatkan namanya di buku rekor dunia sebagai pebulutangkis pertama yang menggondol 8 piala All Englad, 7 diantaranya berturut-turut.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline