Lihat ke Halaman Asli

Mas Nawir

Wiraswasta/Penulis lepas

Museum Kereta Api Ambarawa, Jejak Keperkasaan Transportasi Publik Zaman Belanda

Diperbarui: 9 Januari 2020   13:24

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bangunan Museum/dokpri

Kota dingin Ambarawa pada masa itu hawanya memang mirip di Eropa, terutama Belanda. Topografi Ambarawa yang dikelilingi gunung yang menjulang tinggi sekan menjadi penyekat hawa dan menyimpan hawanya di titik paling rendah.
Gunung Merbabu, Ungaran, Merapi Telomoyo, seakan corong alami yang menghembuskan hawa dingin ke Ambarawa.

Saya menghabiskan masa kecil di Bandungan, dan Ambarawa adalah salah satu kota terdekat tempat saya dan teman-teman berpetualang.

Maka tak heran, Ambarawa menjadi salah satu sentral pemukiman pada jaman Belanda. Bercokol 350 tahun di Indonesia dan hampir merata menguasai seluruh  wilayah, Belanda meninggalkan jejak bangunan bersejarah yang sampai saat ini tetap berdiri kokoh sebagai cagar budaya.

Ada benteng Pendem (ulasannya menyusul), dan satu lagi Museum Kereta Api Ambarawa.

Lokasi museum Kereta Api Ambarawa mudah dijangkau dari titik manapun. Dari jalan raya Semarang Yogya, persis di depan monumen palagan Ambarawa, jalan menurun lurus akan menuntun anda sampai di lokasi. Lokasi ini dekat dengan lapangan Pancasia Ambarawa, Markas pasukan Kavaleri dan Rumah Sakit Umum Ambarawa.

Rel yang nampak di jalan saat anda akan masuk Muesum adalah jalur menuju Tuntang. Di ujung lokasi parkir yang lumayan luas ini terdapat loket penjualan tiket dengan harga Rp.10.000/orang.

Tiket disobek oleh penjaga dan pengunjung dipersilahkan masuk. Ruangan terbuka museum adalah hal pertama yang akan anda lihat. Beberapa jalur kereta api terlihat berjejer, menyilang dari barat sampai ke timur. Dan ujung Utara dan Selatan Museum adalah pertemuan rel yang menjadi satu jalur, ke arah Bedono, dan ke arah stasiun Tuntang.

dokpri

Sebelah kiri dari saat anda masuk, berjejer jenis loko dan gerbong tua peninggalan Belanda. Antara lain;  kereta inspeksi Sultan Madura, kereta kayu dari Kebonpolo, Magelang, NR kayu dari Balai Yasa Yogyakarta, gerbong GR dari Balai Yasa Manggarai, serta lokomotif diesel CC 200 15 dan lokomotif DD5512, dan lokomotif BB200.(Lihat: Wikipedia).

Selain Ruangan terbuka berkanopi yang sangat tinggi pengunjung juga bisa melihat secara langsung beberapa piranti perkereta apian seperti meja putar kereta dan rantai-rantai ukuran besar.

Di dalam museum tidak ada penjual makanan, jadi anda harap membelinya saat masih di luar.

Setelah puas melihat-lihat kegagahan barisan lokomotif yang berjaya di masa lampau, kalau beruntung anda akan melihat loko yang disambung dengan gerbong.
Atau loko yang berputar di meja putar menggunakan tenaga hidrolik.

Meja putar/dokpri

Bangunan stasiun kereta yang di dalamnya ada loket  penjualan tiket, dan alat yang dipergunakan untuk mencetak tiket, adalah hal yang bisa anda nikmati sembari membayangkan suasana jaman dahulu saat orang-orang Belanda pergi melalui stasiun ini.

Lalu yang terakhir, kereta uap dengan tungku raksasa dan menikmati perjalanan melalui rute bergerigi di Bedono, adalah hal yang paling dinantikan oleh para pengunjung.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline