Lihat ke Halaman Asli

Selfie, Kacamata Hitam, Mobil Mewah, Restoran

Diperbarui: 28 Januari 2016   19:53

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

SELFIE, KAACAMATA HITAM, MOBIL MEWAH, RESTORAN

(Gaya Berfoto perempuan Dewasa di Media Sosial)

MUHALIS BEBANG, 2016.

Abad kejayaan internet dan medsos online sementara berlangsung. Internet bukan lagi sekadar pelengkap. Medsos sudah ‘menjajah’ dan ‘membelenggu’ tanpa kita sadari.  Medsos sudah menjadi gaya hidup untuk segala umur. Internet mendekatkan yang jauh, tapi juga ‘menjauhkan yang dekat.’ Kehidupan berumahtangga tak jarang terusik oleh medsos yang sudah menjadi ‘orang ketiga’, yang menyita banyak waktu dan anggaran rumah tangga.

Anak-anak rela menghabiskan masa bermainnya dengan mengakses situs-situs medsos dan game online. Menggeser permainan tradisonal, seperti petak umpet, enrang (longga’) gasing, yang membutuhkan interaksi langsung dengan teman-teman sebayanya. Bangun pagi update status, sarapan dan kegiatan meja makan diawali dengan foto berbagai menu, bukan berdoa. On the way menuju tempat kerja, berada di tempat kerja, pulang dengan kondisi lelah, sampai ingin tidur lagi. Bila sakit, banyak diantaranya lebih memilih memanjatkan doa di medsos, sejatinya bila sakit dan ingin sembuh adalah ke dokter, selanjutnya berdoa dalam shalat. Semua dan segala yang dilalui sepertinya harus  diproklamasikan ke teman-teman dunia maya. Betapa medsos telah menjadi gaya hidup kontemporer yang menggairahkan.

Self-portrait (Selfie),  adalah fenomena dunia maya, menjadi gaya dan milik semua tingkatan umur. Walaupun tak semua melakukannya. Dunia maya penuh canda dan tawa, penuh dengan ‘kepalsuan’ seperti saudara tirinya dunia nyata, yang penuh sandiwara. Foto dan tampilan dunia maya adalah citra dan pencitraan. Pencitraan yang sering dugunakan dalam dunia politik mengandung sedikit makna ‘kepalsuan’. Pencitraan adalah gaya hidup  kontemporer dunia politik yang tak mengenal ‘ke-abadi-an’.

Foto-foto yang beredar di medsos saat ini begitu lekat dengan selfie. Mobil mewah,  restoran mahal, tempat kerja, liburan di luar negeri, ditambah aksesoris paling laris saat ini, kacamata hitam. Sebulan terakhir, penulis menyempatkan diri bergerilya pada salah salah satu media sosial online. Penjelajahan penulis selama hampir sebulan (setelah memohon restu sang istri tentunya), diakhiri 20 Januari 2016 lalu. Survei  online dilakukan terhadap 100 orang sampel yang ditentukan berurut pada akun penulis. Sasaran penelitian berada di dua negera, yakni Indonesia dan Jepang. Jumlah sampel untuk setiap negara adalah 50 orang.

Penentuan jumlah sampel sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan daya tahan penulis, fisik dan non fisik penulis. Perempuan berusia 35 sampai 55 tahun, adalah target utama dengan beberapa pertimbangan. Usia tersebut merupakan masa kedewasaan berpenampilan dan berpikir seorang perempuan dan berpenampilan. Pemilihan Jepang sebagai pembanding, juga karena beberapa pertimbangan. Jepang adalah produsen mobil, kamera, handpone, dan kacamata terkemuka dunia. Selain itu, jepang merupakan negara yang mengedepankan adat ketimuran, serta pernah menjajah moyang kita.

Selfie dan Kacamata Hitam

Kacamata digunakan untuk kali pertama oleh Kaisar Nero. Abad ke XV di Tiongkok hakim menggunakan kacamata yang dicat untuk menghindarkannya dari keputusan yang memihak. Abad ke XX, Ray-Ban, mengembangkan kacamata hitam untuk kepentingan dan keselamatan pilot dalam menerbangkan pesawat. Olahragawan ski dan pendaki gunung juga menggunakan kacamata hitam dengan alasan keamanan mata. Ketika krisis ekonomi melanda Jepang, pengguna kacamata hitam sering diidentikkan dengan yakuza dan mafia.

Kacamata hitam, sangat baik untuk melindungi mata dari teriknya matahari siang dan pengaruh sinar ultra violet. Di masa kejayaan internet seperti saat ini, tujuan penggunaan kacamata hitam telah bergeser menuju ke penyamaran dan pelengkap. Dari 50 akun perempuan dewasa Indonesia, terdapat 56% yang menampilkan foto dengan menggunakan kacamata hitam, sementara itu perempuan negeri Sakura hanya 8%. Angka tersebut tidak dapat dijadikan patokan untuk mengeneralisasi penggunaan kacamata hitam pada perempuan dewasa. Indonesia dengan cuaca yang panas, sangat cocok digunakan di luar ruangan. Sementara  di Jepang dengan cuaca yang lebih sejuk, kurang membutuhkan kacamata hitam.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline