Lihat ke Halaman Asli

Bang Iwan, Aku Rindu Fals-mu

Diperbarui: 10 Februari 2016   14:16

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sombong melangkah istana yang megah
Seakan meludah di atas tubuh yang resah
Ribuan jerit di depan hidungmu
Namun yang ku tau.... Tak terasa terganggu

Bagi penggemar Bang Iwan Fals lirik lagu tersebut tidak akan asing lagi.. Nah guys, menurut kalian lirik tersebut apakah menggambarkan kondisi bangsa kita sekarang ini? (jawablah dengan nuranimu, jangan dengan nafsumu, kata SWAMI di album keduanya "aku tak mau mengingkari hati nurani")

Sekelumit mengenai Bang Iwan (aku ambil dari webnya Bang Iwan Fals, iwanfals.co.id) :
Nama asli Virgiawan Listanto lahir di Jakarta, 3 September 1961 yang kemudian dipanggil Iwan Fals. Selama Orde Baru, ada beberapa jadwal konser Iwan Fals yang dilarang dan dibatalkan oleh pihak keamanan karena lirik-lirik lagunya yang kritis, demonstratif, dan membangkitkan perlawanan massif. Pada perjalanan panggung musik yang memarginalkan diri Iwan Fals, ada sedikit cahaya terang saat Iwan Fals menemukan ruang ekspresi dalam berkesenian di Bengkel Teater WS Rendra. Di sini tercipta media transformasi pemikiran kebudayaan untuk menambah wawasan dan berkarya maka terbentuklah Swami. Iwan Fals bertemu dengan Naniel, Sawung Djabo, Inisisri, Toto Tewel, Jerry, Tates, dan Cok Rampal maka lahirlah Swami yang namanya di ambil dari keadaan personil-personil berstatus sebagai suami dari masing-masing istri mereka. Saat bergabung dengan Swami nama Iwan Fals semakin mencuat dengan mencetak hits sangat fenomenal, Bento dan Bongkar.

Aku pribadi termasuk penggemar Bang Iwan sejak SMP, bahkan ketika STM aku bergabung dengan IFFC (Iwan Fals Fans Club) besutan Radio IBC Semarang. Hingga album "Belum Ada Judul" aku masih mengikuti, namun di album-album selanjutnya kurang intensif mengikutinya, hanya sebatas mengetahui saja.

 Bang Iwan.. jujur aku rindu celoteh-celotehmu yang membangkitkan jiwa dari keterpurukan, menguatkan mental perlawanan ketika kita sedang tertindas, membersihkan jiwa dari nafsu angkara, membuat riang dikala sedih, dan lain sebagainya. Aku juga rindu daya kritismu terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang mengabaikan penderitaan rakyat. Aku juga rindu alunan syair tentang rasa cinta tanah air yang telah terkoyak oleh penguasa serakah.

Maaf Bang Iwan.. pasca pilpres 2014, aku tidak melihat lagi apa yang sudah kusebutkan diatas. Kita boleh berbeda ketika pesta demokrasi, namun setelah selesai mari kita kembali lagi alami "Back to Natural". Dukung jika kebijakan itu berdampak baik buat rakyat, dan tetap kritis jika kebijakan itu menyengsarakan rakyat. Jangan gadaikan nurani kita, "Aku Tak Mau Mengingkari Hati Nurani" begitulah engkau mengajari kami. Jangan sampe menjadi jiwa JARKONI : iso ngajari, ra iso ngelakoni (bisa mengajarkan, ga bisa mengamalkan).

Kalaupun engkau menjadi duta desa itu sebenarnya tidak masalah, berdayakan potensimu di bidang yang engkau anggap mampu. Namun bukan berarti harus "CLOSES IDENTITY". Teruslah jaga kekritisanmu dikala belenggu besi kini mengkerangkeng negeri. Justru dengan menjadi duta desa engkau akan melihat bagaimana jeritan rakyat mendera, yang tak akan engkau saksikan di media. Entahlah kini media milik siapa...???

 Kalo aku boleh mengibaratkan, IWAN itu namamu, dan FALS itu adalah jati dirimu, maka terus terang aku sangat rindu FALSmu Bang Virgiawan Listanto...!!! Mungkin bukan hanya aku saja yang merindukan FALSmu, tapi ribuan bahkan jutaan rakyat di negeri ini, yang kini telah dibungkam belenggu tirani oleh penguasa negeri yang dulu kita kira adalah kurcaci pembebas negeri.

*Sebelum mengakhiri tulisan ini aku ingin bernostalgia dengan lagu milik Bang Iwan yang berjudul "Coretan Dinding", inilah lirik lagunya:
Coretan dinding membuat resah
Resah hati pencoret mungkin ingin tampil
Tapi lebih resah pembaca coretannya
Sebab coretan dinding
Adalah pemberontakan kucing hitam
Yang terpojok ditiap tempat sampah, ditiap kota
Cakarnya siap dengan kuku kuku tajam
Matanya menyala mengawasi gerak musuhnya
Musuhnya adalah penindas
Yang menganggap remeh coretan dinding kota
Coretan dinding terpojok di tempat sampah
Kucing hitam dan penindas sama sama resah

 

AKU RINDU FALS-MU BANG IWAN... Sekian.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline