Lihat ke Halaman Asli

Marthinus Selitubun

Hanya seorang hamba

Teman dari Eritrea

Diperbarui: 26 Agustus 2019   21:11

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bersama Daud di dalam kereta (dok.pri)

Hari ini terasa sangat panas, apalagi di kawasan seputar stasiun pusat kota Pescara. Kulirik sejenak HP-ku yang bertuliskan 37 derajat celsius.

"Ah, masih ada waktu untuk ke toilet dan beli tiket", gumamku. Tidak lama kemudian, ada pengumuman tentang keberangkatan menuju kota tempat tinggalku tinggal 5 menit lagi. Aku pun berlari kencang ke arah peron di lantai atas.

Kucari tempat duduk yang nyaman. Di bagian belakangku kudengar suara seorang pemuda yang menanyakan arah kereta ini dan nama stasiun tempat dia turun. "Non lo so!" Demikian suara samar-samar orang yang ditanyakan, yang artinya dia pun tidak tahu.

Suara si penanya itu makin mendekat. "Hallo my friend, maaf mengganggu Anda. Saya sedang kebingungan arah kereta ini, dan nama stasiun tempat di mana saya akan turun," ujarnya dengan sopan dalam bahasa Italia. "Ah, saya bisa mengecek di HP..Iya benar... anda tidak salah," jawabku.

"Apakah saya boleh duduk di seberang sana?"
"Ya, tentu saja, engkau pun bebas memilih tempat duduk."

Posisi kami dibatasi oleh dua kursi dan lorong kereta. Diam- diam kuperhatikan pemuda ini. Bertopi, berkulit gelap, dan berambut keriting. Sepatunya bersih. Dia terlihat baru pulang belanja dari supermarket. Tasnya yang sedikit transparan menujukkan isinya berupa bahan makanan. Sebentar-sebentar dia melirik ke arahku, entah ingin menyapa atau bertanya. Kuputuskan segera untuk memasukan HP ke dalam tasku dan memberikan kesempatan kepada dia, mungkin dia ingin menanyakan sesuatu. Dan benar, dia menunggu momen yang tepat untuk mulai bertanya. 

Hallo, Anda berasal dari Mana?
Saya dari Indonesia.
Di Asia?
Ya benar.
Wah, jauh sekali.
Kalau kamu?
Saya dari Eretea di Afrika. Nama saya Daud.

Bagaimana bisa kamu tiba di Italia? Pertanyaanku ini menjadi awal kisah panjang dia selama perjalanan kami.

Negaraku terletak di Afrika, berbatasan dengan Sudan, Etiopia, dan Djibouti, dan laut merah. Nama negara kami diambil dari bahasa Latin, yang berhubungan dengan laut, Mare Erythraeum (merah dalam bahasa Yunani, erythros). Setelah dilanda perang berkepanjangan, dan kemudian merdeka, kami hidup dengan baik. Saya berkuliah sebentar dan memutuskan untuk berhenti karena kesulitan ekonomi.

Target saya kemudian adalah mengumpulkan uang. Saya berpikir untuk menuju ke Eropa, melalui negara Italia. Dengan beberapa teman, kami menggunakan mobil menyeberangi Gurun Sahara. Perjalanan mengerikan itu memakan waktu 21 hari lamanya. Kami menyeberangi lautan pasir yang terlihat tidak berujung, kehausan, badai pasir, kelaparan, dan kehabisan bahan bakar.

Setelah itu, kami harus menyeberangi lautan dengan kapal selama beberapa hari. Sungguh tidak mudah, kami berdesak-desakan dan tidak sedikit yang meninggal di perjalanan ini. Di kapal pun tidak mudah. Nyawa kami menjadi taruhan hanya untuk mencari hidup yang lebih layak.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline