Lihat ke Halaman Asli

Andri Setiawan

Aku Membaca Maka Aku Ada

Menjadi Pribadi Transendental

Diperbarui: 23 April 2021   11:22

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Ibrahim tidak diperintah oleh Allah untuk membunuh Ismail, Ibrahim hanya diminta oleh Allah untuk membunuh rasa 'kepemilikan' terhadap Ismail. Karena itu Ibrahim adalah manusia level insan(becoming), manusia yang telah diberikan daya kekuatan ruh ilahi. semua ini hakikatnya milik Allah, ungkap Ali Syariati. 

Ismail kita mungkin 'harta', Ismail kita mungkin 'jabatan', Ismail kita mungkin 'gelar', Ismail kita mungkin 'ego', Ismail kita mungkin sesuatu yg kita 'sayangi' dan kita 'pertahankan' di dunia ini. Sejalan dengan kisah sapi betina dalam kitab suci Al Qur'an pada cerita nabi Musa. 

Kita seringkali terkesima kepada sesuatu yang tidak abadi. Bahkan merasa kebergantungan dan kemelekatan yang tinggi. Sehingga kita seperti gila, bila semuanya pergi. Hidup ini memang fiksi, seringkali hanya imajinasi. "Perintah yang dibayangkan" ungkap Yuval Noah Harari dalam buku Sapiens, A Brief History of Humankind (2015)

Kisah Ibrahim dan Ismail di atas merupakan peristiwa simbolik, dimana seseorang mesti melepaskan kemelekatan yang berlebihan terhadap hal-hal bendawi, (Artinya tidak bergantung), agar hidup menjadi tenang, tidak gampang mengeluh dan selalu bersyukur, ungkap Dr Fahrudin Faiz dalam ngaji filsafat: "Al Mawardi - kepemimpinan".

Dahulu, seorang cucu nabi (Husein) pernah berucap, "Hanya orang bodoh yang bernaung kepada sesuatu yang tak Abadi".

Karena bila jiwa ini hanya fokus pada hal-hal indrawi-materi serta eskpektasi berlebih, maka ujungnya pasti kecewa. Sesuatu yang tak abadi, tak akan pernah dapat memuaskan dahaga jiwa.

Hidup ini ada Sunnatullah dan Qudratullah. Sunattullah itu seperti matematikanya Pythagoras, karena hidup ini ada rumus nya dan harus kita pedomani dalam perjuangan. Seandainya perjuangan gagal ya sabar dan jangan putus asa, karena kita masih ada Qudratullah (Allah berkendak). Cuma Qudratullah dalam hidup sehari-hari jangan dijadikan pedoman. Makanya kita beriman harus kepada Qadha (Sunnatullah) dan Qadar (Qudratullah). 

Di balik keindahan ini, ada sang Maha Indah. Jangan berhenti disana. Belajarlah untuk melihat sesuatu dengan pandangan menyeluruh. Semua ini bersumber dari yang Esa. Bila jiwa kita bersih, semuanya akan terlihat indah. Bahkan derita dan cobaan, kita anggap sebagai cubitan sayang dari sang Maha Kasih.

Realitas ini sesungguhnya bergradasi (bertingkat), dan alam materi adalah realitas paling terendah di antara realitas-realitas yang Tuhan ciptakan. Maka, upayakan untuk tidak terpenjara oleh hal-hal bendawi-materi yang akan menurunkan level spiritual kita sebagai mahluk transendental.

Plato pernah berucap, "Manusia pada mulanya akan mengejar setiap yang dicintainya dengan harapan luar biasa. Namun, ketika yang dicintai itu sudah didapatkan, maka kecintaannya akan segera berubah menjadi kebosanan". Sepintas kalimat Plato tersebut absurd, tapi bagi mereka yang mau sejenak berfikir, akan segera terungkap rahasianya. 

Manusia sejatinya tidak dapat selamanya mencintai sesuatu yang terbatas, tidak dapat selalu bersama sesuatu yang fana. Tidak mampu bertahan dengan sesuatu yang terikat oleh ruang dan waktu, ungkap Ibnu Arabi. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline