Lihat ke Halaman Asli

Mang Pram

TERVERIFIKASI

Rahmatullah Safrai

Menjejaki Kisah Cinta Saijah-Adinda di Rumah Multatuli

Diperbarui: 12 Juni 2021   17:33

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Patung Multatuli (Foto Hilal/dokpri) 

Kisah cinta Sijah kepada Adinda berakhir tragis. Tak hanya cinta yang tak bisa bersatu, tapi juga kondisi sosial tatanan kehidupan yang tak tak beruntung di bawah kekuasaan penjajahan Belanda.

Eduard Douwes Dekker atau lebih dikenal dengan nama pena Multatuli mencatat penindasan rakyat pribumi oleh penjajah dan di kemas dalam novel cinta Max Haevelaar, menceritakan betapa nelangsanya hubungan pemuda di Kabupaten Lebak yang tak berdaya mendapatkan cinta sahabat masa kecilnya.

Kekejaman penjaja Belanda kala itu, Cinta yang berjarak, dipertemukan kembali dalam kesedihan, keperawanan Adinda direnggut tentara Belanda.  Saijah setelah lama mencari, menemukan tubuh Adinda penuh luka terbujur tak bernyawa.

Dibrondong peluru tentara Belanda, Saijah meregang nyawa. Cinta Saijah dan Adinda berakhir dengan luka dan kematian.

Saijah dan Adinda telah tiada, namun kisahnya yang melegenda tetap hidup. Hingga saat ini, perjuangan cinta itu diabadikan dalam Museum Multatuli.

Kabupaten Lebak, Banten menghidupkan kembali Sijah dan Adinda melalui Museum Multatuli. Gambaran tragis dalam novel Multatuli yang mendunia itu bisa nyata dikunjungi dalam rumah Max Havelaar.

Kekuatan novel ini menjadi salah satu karya penting yang menceritakan sejarah Banten dan Lebak, Museum Multatuli dibangun sebagai menjaga sejarah penting dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Lebak.

Museum Multatuli berdiri di bekas gedung Wedana Rangkasbitung yang telah digunakan sejak tahun 1923. Terletak disisi Alun-Alun Rangkasbitung dan tidak jauh dari Kantor Bupati Lebak.

Letak Museum ini sangat mudah di akses bagi warga Ibu Kota Jakarta atau pun daerah sekitar Banten. Akses kendaraan umum juga lebih gampang. Cukup menggunakan fasilitas  Commuter Line jalur Tanah Abang -- Rangkasbitung jika dari Jakarta. Kerta Api Lokal Merak-Rangkasbitung dari Banten.

Akses menuju museum cukup mudah, dari Stasiun Rangkasbitung bisa menggunakan fasilitas kendaraan umum, baik angkot, ojek pangkalan, dan ojek daring.

Tak ada biaya tiket masuk, lalu ada apa saja di dalam Museum Multatuli?

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline