Lihat ke Halaman Asli

Mahbub Alwathoni

Praktisi Pendidikan Tinggal di Grobogan

Selain Menteri, Kepala Sekolah dan Pengawas Milenial Juga Perlu Ada

Diperbarui: 23 Agustus 2019   13:42

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

sumber ilustrasi: Pixabay/Sasint

Perjalanan cukup panjang selama melakukan penelitian pendidikan, sebagian cerita (saya) tuangkan di media ini hanya sekedar curah keprihatinan (saya) yang juga sebagai pengajar. 

Mutu pendidikan tak lepas dari lembaga pendidikan itu sendiri, berangkat dari kesadaran individu dan menuju kesadaran kolektif dari lembaga itu sendiri bagaimana upaya-upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Ada beberapa main-factor yang bekerja dan berpengaruh dalam hal ini, yaitu pimpinan (kepala sekolah) dan pengawas (assesor).

Pimpinan lembaga pendidikan (kepala sekolah) dituntut bukan hanya cerdas, cekatan, humanis, terampil dalam hal manajerial, namun juga kemampuan (ability) untuk menangkap perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat tak terduga.

Banyak kepala sekolah yang hebat, namun sedikit atau beberapa kepala sekolah yang bereputasi jelek atau pendek kata "stupid", akan menghambat luaran pendidikan nasional. Assesment kepala sekolah memang sudah seharusnya diperketat, namun apa daya pada akhirnya kembali berpulang kepada pengambil kebijakan, dalam hal ini kemendikmen/diknas dan kementerian agama. 

Ada beberapa lembaga pendidikan formal negeri yang (saya) temui pada saat penelitian (rentang 2017 - 2019).

Bermula hanya mengambil sampel penelitian untuk kegiatan pembelajaran kimia di beberapa sekolah maupun madrasah, namun potongan fakta yang saya temui justru menyedihkan terkait peran kepala sekolah dalam ikut memundurkan mutu pendidikan.

Contohnya adalah tindakan yang tidak menyenangkan (bullying) yang diterima oleh guru kritis, cerdas, berprestasi yang dilakukan oleh pimpinan (kepala sekolah).

Alasannya bermacam-macam, karena mengkritik kebijakan sang kepala, merasa tersaingi, hingga urusan personal yang semestinya tidak terjadi mengingat kepala sekolah harus memiliki figur humanis, cerdas sosial dalam merangkul semua anak buahnya.

Ditemukan pula profil pimpinan kepala sekolah yang tidak mampu memahami content standar pendidikan, pedagogical, dan aspek-aspek penting yang semestinya di miliki seorang kepala sekolah.

Dari beberapa interview yang tak sengaja, terungkap pula pencitraan yang dilakukan kepala sekolah demi memperpanjang usia jabatannya, atau juga promosi jabatan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline