Lihat ke Halaman Asli

Luthfi Kenoya

Penikmat Senja dan Kopi

Nyinyir, Alternatif Melawan Propaganda

Diperbarui: 16 September 2020   13:47

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi: pixabay

Alkisah, suatu ketika bajak laut dapat ditangkap oleh armada pasukan laut. Bajak laut yang tertangkap ngotot tidak mau ditangkap oleh armada, dia berkata: "mengapa saya yang kecil disebut perampok, semantara anda yang mengembal upeti dalm jumlah besar disebut pahlawan?" 

Noam Chomsky

Saya cukup lama menimbang judul diatas, saya yakin akan banyak yang tidak suka dan itu tidak masalah. 

Tulisan kali ini akan hendak menganalisa fenomena akhir-akhir ini dimana Indonesia kerap mendapatkan banyak pujian dari negara asing, masyarakat kemudian didorong untuk bangga. 

Pemerintah menyajikan data-data keberhasilan, sungguh luar biasa, dan rakyat didorong utk bangga mengenai hal itu, tentu jangan nyinyir! Penulis mencoba memberikan alternatif analisa dan penilaian atas fenomena tersebut yang mungkin di luar keinginan pemerintah. 

Keniscayaan Propaganda

Dalam politik, mereka yang berhasil membangun citra (image) akan mendapatkan legitimasi publik seperti yang mereka inginkan atau sebaliknya. Meski para politisi tahu nobody perfect, mereka tidak mungkin menampilkan diri yang apa adanya karena kehilangan kepercayaan publik justru akan melemahkan kekuasaannya. 

Selain itu manusia tidak mungkin kembali ke masa lalu dan merubah apa yang sudah telah dilakukan, kata maaf adalah pilihan yang paling sulit diambil oleh politisi, katanya itu menggerus kewibawaan mereka, nanti dibilang inkonsistensi!

Dalam negara yang dipenuhi pencitraan, sedikit sekali kebijakan yang muncul atas keinginan rakyat, permainan kuasa melahap rasa empati dan simpati para politisi dewasa ini yang ada adalah propaganda. 

Dimulai pada tahun 1916 ketika presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson mengampanyekan platform "Perdamaian Tanpa Penaklukan" di tengah-tengah masyarakat yang anti-perang.

Lalu, sang presiden membentuk komisi propaganda resmi pemerintah yang disebut Creel Commision dan sukses dalam waktu 6 bulan mengubah populasi anti-perang menjadi massa yang histeris dan haus perang. Keberahasilan tersebut didukung oleh seorang intelektual bernama John Dawey.  

Sejarah peperangan dunia adalah lukisan tentang pola-pola propaganda yang dilakukan masing-masing negara, efektif? Sangat efektif, diluar nada negatif, penulis juga tidak menafikan propaganda digunakkan untuk melindungi sebuah negara dari ancaman negara lain.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline