Lihat ke Halaman Asli

Luthfa Arisyi

Mahasiswa

Jika Bumi Hancur, Aku Bakal Pindah ke Universe Mana, Ya?

Diperbarui: 23 Juni 2022   10:53

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Nature. Sumber ilustrasi: Unsplash

Beberapa hari ini saya baru saja menonton film Doctor Strange in the Multiverse of Madness. Film ini intinya menceritakan perjuangan Doctor Strange dalam menjaga tatanan universe atau semesta yang ditinggalinya saat ini dari serangan orang-orang atau mahluk yang datang dari versi lain semesta, termasuk versi jahat dari Doctor Strange itu sendiri.

Namun, hal yang membuat saya tertarik di sini bukanlah tentang perjuangan Doctor Strange dalam melawan kejahatan dan aksi pahlawan super yang penuh dengan ledakan, melainkan tentang konsep multi semesta yang menjadi pusat penceritaan dalam film ini.

Dalam film Doctor Strange in the Multiverse of Madness dijelaskan bahwa di luar sana ada banyak versi lain dari semesta yang kita tinggali saat ini.

Versi lain tersebut meliputi versi lain dari diri kita dan orang-orang yang ada di sekitar kita pula. Contoh, film Doctor Strange in the Multiverse of Madness menceritakan semesta yang ditinggali Doctor Strange saat ini disebut dengan Earth-616, semesta yang sama seperti yang kita tinggali saat ini.

Kemudian, ia mengunjungi Eath-838 di mana dalam semesta ini bumi ditumbuhi tanaman rambat, lampu merah artinya jalan, dan Doctor Strange sudah mati. Dan masih banyak lagi hal-hal kecil yang ternyata berbeda dengan semesta tempat Doctor Strange tinggal.

Konsep multi semesta yang diceritakan dalam film Doctor Strange in the Multiverse of Madness mebuat saya berpikir, jika bumi atau semesta yang saya tinggali saat ini rusak, saya harus pindah ke semesta yang mana untuk menyambung hidup?

Salah satu isu lingkungan yang paling menjadi perhatian saat ini di dunia, khususnya Indonesia adalah perubahan iklim. Perubahan iklim yang terjadi secara masif saat ini disebabkan oleh pemanasan global yang sudah berlangsung selama ratusan tahun ke belakang.

Semuanya dimulai ketika revolusi industri terjadi di Inggris pada abad ke-19 di mana penggunaan mesin uap sebagai alat penunjang industri dan kehidupan sehari-hari manusia.

Penemuan mesin uap ini tentu saja sangat revolusioner bagi umat manusia saat itu karena kehadirannya sangat memudahkan kehidupan. Akan tetapi, ternyata ada harga yang sangat besar yang harus dibayar untuk mewujudkan perubahan tersebut.

Dalam pengoperasiannya, mesin uap menggunakan bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam sebagai bahan bakar utama dan satu-satunya. Penggunaan bahan bakar fosil ternyata menghasilkan emisi karbon yang mengandung karbondioksida atau CO2 di dalamnya.

Emisi karbon yang menumpuk di lapisan ozon bumi ternyata menyebabkan panas matahari yang seharusnya terpantul ke luar bumi malah tertahan sehingga hal tersebut dapat menyebabkan peningkatan suhu bumi dan dapat menyebabkan pemanasan global. Bayangkan saja, sejak terjadinya revolusi industri di Inggris hingga sekarang kita memasuki revolusi industri 4.0, sudah sebanyak apa emisi karbon yang dihasilkan dari penggunaan bahan bakar fosil?

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline