Lihat ke Halaman Asli

Luffi Hanifah

Content Writer | Digital Marketer

Waspada Phishing Berkedok Customer Service! Incar Uang hingga Data Pribadi

Diperbarui: 8 Desember 2021   21:46

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

sumber: outsidegc.com 

JAKARTA, Indonesia -- Modus penipuan lewat dunia maya atau phishing, lagi-lagi kembali mengintai para pengguna platform online. Jenis penipuan berbasis cybercrime ini patut diwaspadai, karena tidak hanya mengincar uang korban namun juga sejumlah data pribadi.

Belakangan sempat beredar kabar mengenai penipuan yang menyasar beberapa korban di dunia maya dengan berkedok sebagai Customer Service. Aksi penipuan yang kerap dilancarkan pelaku dengan memanfaatkan platform Twitter ini mengincar para korban yang merupakan pengguna transaksi virtual seperti mobile banking dan jenis e-wallet.

Kejadian naas tersebut sempat menimpa seorang wanita berinisial S (24), yang pengalamannya ia bagikan lewat unggahan akun Twitternya @TXTSoo_binChoi. Melalui wawancara lebih lanjut, korban pun menceritakan kronologi penipuan model phishing yang dialaminya dari oknum yang mengaku sebagai pihak Customer Service Bank BNI.

Kejadian bermula pada bulan Juli tahun 2020 lalu, ketika kala itu korban tengah mendapat kendala akibat pengisian saldo e-wallet miliknya tak kunjung masuk meski saldo di rekening korban telah berkurang. Lama menunggu kepastian dari pihak resmi BNI, korban pun berinisiatif menanyakan masalahnya lewat platform Twitter, berharap ada pihak terkait atau orang yang mengalami hal serupa yang dapat membantunya.

"Nah terus langsung ada pihak BNI yang dm di Twitter aku, dia bilang akan bantu proses refund", tukas korban yang waktu itu belum menduga bahwa unggahannya dimanfaatkan oleh pelaku modus phishing . Pelaku yang mengaku sebagai pihak Customer Service Bank BNI kemudian meminta nomor pribadi korban untuk berbicara lebih lanjut. "...Setelah dia DM (Direct Message) di Twitter seperti yang udah aku post, dia lanjut menghubungi via telepon", tambahnya.

S kembali menuturkan bahwa pelaku menjalankan aksinya dengan cara memberikan rangkaian instruksi khusus dan mempertahankan komunikasi selama mungkin. Ia juga menegaskan bahwa pelaku phishing berkomunikasi layaknya Customer Service profesional, sehingga pelaku terdengar sangat meyakinkan seperti seseorang dari pihak resmi.

Hal yang disasar pelaku adalah mobile banking korban melalui instruksi-instruksi tertentu. S yang sudah hanyut dalam siasat pelaku tak sadar ketika pelaku terang-terangan meminta data nasabah yang bersifat pribadi, seperti kode OTP (One-Time Password) Mobile Banking BNI bahkan hingga foto jelas bagian depan dan belakang kartu ATM korban.

Pelaku kemudian mengatakan bahwa proses pengembalian saldo rekening korban dapat dilakukan dengan mentransfer uang ke rekeningnya sendiri sebesar nominal yang sama seperti yang korban gunakan untuk e-wallet di awal tadi. Korban pun tanpa curiga menuruti perintah pelaku dengan meminjam rekening ibu korban guna mentransfer uang tersebut via ATM. 

Tak berhenti sampai disana, pelaku kembali melancarkan aksinya untuk mencoba menipu korban lebih jauh lagi. Dengan dalih bahwa proses pemulihan mengalami terkendala dan belum bisa dilakukan, pelaku kembali meminta korban untuk mentransfer sejumlah nominal kepada rekening korban yang sudah dikuasai pelaku. Pelaku bahkan juga menanyakan data pribadi seperti jumlah saldo yang ada pada rekening lain yang digunakan korban untuk mentransfer.

"Terus dia bilang ternyata belum bisa dengan transfer sejumlah itu. Dia tanya masih ada berapa saldo di rekening ibuku, aku bilang ada 8 juta'an. Terus dia minta coba transfer lagi 3 juta dulu, dan lagi-lagi minta kode OTP. Sampai ketiga kalinya aku transfer lagi 5 juta", tutur korban menjelaskan kronologi kejadian lebih lanjut.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline