Lihat ke Halaman Asli

Guru Penggerak Itu Tak Lelah Bergerak (2)

Diperbarui: 30 November 2022   16:39

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Sejak awal dibukanya PAUD di kampung halamannya, Iren menyadari penuh tantangan yang dihadapinya. Sumber daya manusia yang terbatas. Siapa yang akan menjadi guru, menemani kedua orangtuanya? Ia mendapati perempuan-perempuan yang bersemangat mendidik anak-anak. Dalam pengalaman Iren, selalu ada perempuan-perempuan yang mau bergabung untuk mendidik anak-anak ketika ia membuka PAUD di tempat yang lain. Bahkan ada perempuan-perempuan yang datang menemuinya dan meminta untuk membuka sekolah di desa mereka karena menyadari kebutuhan anak-anak mereka akan pendidikan yang lebih baik. Seperti yang terjadi di desa Huku Kecil. 

Dalam salah satu kesempatan mengunjungi desa itu bersama salah satu partai politik di mana ia bergabung, Iren melihat banyak anak usia dini di sana namun tidak ada sekolah PAUD. Di desa itu ada SD dan SMP, namun guru-gurunya tidak tinggal di sana. Mereka hanya datang beberapa bulan sekali. Guru honorer yang berasal dari desa itu yang melakukan tugas mengajar. 

Huku Kecil memang jauh di atas gunung dengan akses jalan yang terbatas. Ia menyayangkan hal itu, namun hanya berdiam diri. Hingga kemudian setelah beberapa kali kunjungan lanjutan, ia diminta oleh beberapa perempuan untuk membuka PAUD di sana. Sebelumnya sudah pernah ada PAUD yang dibuka oleh salah satu guru tapi tidak bertahan lama karena sang guru tidak menetap di sana. Sebenarnya Iren tidak hanya mengunjungi Huku Kecil. 

Ada tiga belas desa terpencil di Kecamatan Elpaputih yang dikunjunginya dan ia menemukan kondisi yang serupa. Namun Huku Kecil begitu melekat di hatinya karena hubungan adat yang erat antara desa ini dengan desanya. Dalam adat Maluku, Tihulale dan Huku Kecil adalah “Pela”. Ikatan persaudaraan secara adat dengan berbagai aturan dan pantangan yang mengikat warganya. Iren kemudian membuka sekolah di sana pada tahun 2019 dan para perempuan yang menjumpainya itu menjadi guru.

Perempuan-perempuan dengan kemauan mendidik anak-anak juga ia jumpai di 3 desa lainnya. Yakni Kaibobo, Waisarissa dan Nuruwe. Merekalah yang kemudian menjadi guru, walau tidak memiliki latar belakang pendidikan guru. Dengan sumber daya guru yang terbatas, Iren sadar diperlukan kegiatan-kegiatan untuk memperlengkapi guru dan upaya peningkatan kompetensi guru. 

Tidak seperti di Jakarta, di daerah 3T seperti ini kegiatan-kegiatan peningkatan kompetensi guru PAUD sangat jarang.  Itu sebabnya Iren rajin memberi pelatihan kepada guru-guru di PAUD Pelangi Asih. Sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah dan menetap di Tihulale pada tahun 2017, Iren harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk bolak-balik Jakarta-Ambon demi memberi pelatihan. Kala itu tidak tersedia fasilitas untuk kegiatan online, seperti sekarang. Keputusan untuk meninggalkan Jakarta dan segala kesenangannya diambil karena ia ingin serius mengembangkan sekolahnya demi mewujudkan cita-cita mencerdaskan anak-anak di kampung halamannya. Di samping itu, ia ingin merawat kedua orangtuanya yang sudah semakin tua.

Setelah menetap di Tihulale, Iren lebih leluasa melakukan hal itu. Selain memberi pelatihan, Iren pun mendorong para gurunya mengikuti berbagai kegiatan peningkatan kompetensi guru PAUD. Ia sendiri rajin mengikuti berbagai kegiatan. Ia sadar, tinggal di desa kecil apalagi di daerah 3T bisa membuatnya tertinggal. Ia harus selalu meng-upgrade dirinya. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Tahun 2018 ia terpilih sebagai GTK mitra provinsi Maluku. 

Selama 3 tahun ia belajar melakukan supervisi reflektif kolaboratif dan mengimbaskannya kepada 13 PAUD di kabupaten Seram Bagian Barat. Hingga kini ia terus menerapkan ketrampilan yang dimilikinya. Setiap hari setelah jam pembelajaran selesai, ia dan guru-guru lain akan melakukan refleksi diri. Dengan demikian setiap orang bisa menilai sendiri apa yang telah dilakukannya hari itu. Apa kendala yang ia dapat, apa yang harus dibenahi. Refleksi diri itu dilanjutkan dengan persiapan bersama untuk pembelajaran besok hari.

Iren sadar betul bahwa guru PAUD harus kreatif dan inovatif, dan sesuai dengan zamannya. Apalagi guru PAUD di daerah 3T yang memiliki banyak keterbatasan. Fasilitas pendidikan yang kurang memadai seringkali dijadikan alasan. Tapi Iren tidak mau dikalahkan oleh keadaan. Ia mencari solusi bagaimana menciptakan pembelajaran yang menarik untuk mencapai tujuan PAUD, yakni mengembangkan potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Ia memilih model pembelajaran berbasis alam dan kearifan lokal. Ia tak rela anak-anak tercabut dari budayanya. Melupakan kearifan lokal dan mengabaikan sumber daya alam yang tersedia. Ia membawa anak belajar di alam dan menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar. Ia pun melibatkan orangtua untuk mengajar melalui apa yang disebutnya “kelas orangtua mengajar”. 

Orangtua diundang ke sekolah atau dikunjungi di tempat kerjanya, seperti kebun atau tempat membuat kopra, lalu anak diajak untuk melakukan wawancara agar dapat mengetahui berbagai hal tentang “sang guru”. Cara ini dinilainya dapat membantu literasi anak. Selain itu efektif untuk memperkenalkan anak pada beragam pekerjaan di sekitarnya, dan menimbulkan pengenalan serta penghargaan anak pada pekerjaan orangtuanya. 

Di lain kesempatan ia membawa anak-anak ke pantai. Belajar sambil bermain di sana. Atau ke tempat pengolahan sagu, melihat proses membuat sagu, makanan khas orang Maluku. Anak-anak pun diajak mencari ulat sagu, makanan dengan protein tinggi yang akrab bagi masyarakat Maluku. Cara sederhana memperkenalkan anak pada situasi konkret di mana ia hidup. Apa yang dilakukannya membuat Iren menerima penghargaan Askrindo PAUD Institute (APIA) sebagai juara tiga guru heroik pada tahun 2021. Buah dari keberhasilan itu, ia mengirim salah seorang guru untuk mengikuti diklat dasar yang dilaksanakan oleh Askrindo di Jakarta dan mempersiapkan 2 orang guru untuk mengikuti Askrindo PAUD Institute Award di tahun berikutnya. Tidak tanggung-tanggung, kedua guru itu masuk nominasi (10 besar) guru Heroik dan satu di antaranya berhasil meraih juara tiga.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline