Lihat ke Halaman Asli

Sulistyo

Buruh Dagang

HUT ke-263 Kota Yogyakarta dan Grebeg Pasar Tradisional

Diperbarui: 21 Oktober 2019   18:27

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

peserta kirab Grebeg Pasar dari Pasar Kranggan Yogyakarta. dokpri

Masih dalam rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Yogyakarta yang jatuh pada tanggal 7 Oktober 2019 lalu, hingga akhir bulan ini berbagai kegiatan secara simultan terus berlangsung diberbagai tempat di wilayah kota Yogyalarta.

Hari ini (Sabtu Pahing, 19/10/2019) segenap pedagang pasar tradisional se kota Yogyakarta ikut berpartisipasi dalam merayakan HUT Kota Yogyakarta dengan menyelenggarakan Grebeg Pasar yang mengambil rute dari Pasar Sentul (Jalan Sultan Agung, Jalan Kusumanegara dan berakhir di Balai Kota, Kompleks Timoho).

Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Yunianto Dwisutono bahwa "Grebeg Pasar" ini telah diselenggarakan sejak tahun 2012 dimaksudkan sebagai kirab bregada yang terdiri dari seluruh komunitas pedagang pasar tradisional. Masing-masing peserta menampilkan gunungan yang berisi dagangan atau cira khas pasarnya. Kirab kali ini menampilkan susana berbeda yakni disematkan tema wayang dimana masing-masing peserta berpakaian wayang (Kedaulatan Rakyat, 16/10/2019, halaman 2).

Grebeg Pasar yang ditampilkan oleh 32 pasar tradisional (32 gunungan) disamping merupakan partisipasi warga pasar ikut memeriahkan HUT Kota Yogya, menjadikan tontonan seni-budaya, juga merupakan ajang promosi sekaligus mengajak masyarakat untuk tetap berbelanja di pasar-pasar tradisional.

Kali ini Grebeg Pasar akan dimulai/diberangkatkan dari kawasan Pasar Sentul yaitu siang sekitar pukul 14.00 WIB dan berakhir di Kompleks Balai Kota Yogyakarta. Sedangkan beberapa gunungan selanjutnya akan diperebutkan oleh semua lapisan masyarakat yang hadir setelah diberikan aba-aba oleh panitia.

Gunungan dari Pasar Kranggan yang diikutkan dalam Grebeg Pasar (dokpri)

Penyelenggaraan Grebeg Pasar yang melibatkan segenap warga/komunitas pasar pastinya layak diapresiasi bahkan ini merupakan bentuk keberpihakan pemerintah daerah dalam pemberdayaan pasar tradisonal, khususnya di wilayah kota Yogyakarta.

Penulis sendiri, yang juga kebetulan sebagai salah satu warga/pedagang di pasar tradisional merasakan bangga bahwa pembangunan pasar tradisional (revitalisasi) telah dilakukan di berbagai lokasi. Diharapkan nantinya, pasar tradisional semakin tertata, bersih, aman, nyaman sesuai dengan semboyan pasar di Yogyakarta yaitu "Pasare Resik, Atine Becik, Rejekine Apik, Sing Tuku Ora Kecelik".  

Seiring dengan perkembangannya, tentunya kota Yogyakarta yang sejak beberapa tahun belakangan banyak bertumbuhnya pasar-pasar modern (supermarket, mall,  atau toko/perdagangan modern lainnya) ada baiknya pasar tradisional masih perlu mendapat perhatian maupun pembenahan berbagai aspek, terutama dari para pengambil kebijakan di daerah.

Hal ini menjadi penting karena jangan sampai modernisasi terutama di bidang industri dan perdagangan hanya dimonopoli oleh para pemilik modal besar sehingga para penggerak di sektor ekonomi kerakyatan masih tetap bisa berjalan.

Pak Idris Suhardiman di Pasar Kranggan Yogyakarta (dokpri)

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline