Lihat ke Halaman Asli

Listhia H. Rahman

TERVERIFIKASI

Ahli Gizi

Benarkah Produk yang Sehat Berarti Harus Mahal?

Diperbarui: 1 Februari 2018   23:41

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber ilustrasi: coach.nine.com.au

Coba perhatikan harganya, apakah produk sehat yang kamu beli selama ini ternyata hanya menguras isi dompetmu alias mahal?

Beberapa waktu lalu secara tidak sengaja saya melihat sebuah iklan produk penunjang kesehatan. Produk semacam suplemen gitu dengan klaim bisa menurunkan berat badan (seingat saya).

Berhubung acara televisi sedang tidak lagi asyik, saya memutuskan untuk menyelesaikan iklan produk tersebut sampai tuntas. Walau saya tahu akhirnya, iklan semacam itu bagi saya cuma omong kosong (haha) atau dengan bahasa halusnya tidak pernah saya minati untuk membelinya. Bagi saya mau menontonnya sampai beres aja udah keren.

Seperti biasanya disepanjang iklan produk macam ini, penonton diberikan pemaparan mengenai klaim yang terlihat amat menjanjikan didukung pula dengan teori ilmiah yang rasanya bagi saya kok dilebih-lebihkan, terlebih yang berbicara juga bukan orang yang ahli dalam bidangnya.

Benar saja, setelah acara iklan-mengiklan tersebut selesai, saya mulai kepodi googleuntuk mencari kebenaran yang sesungguhnya yang ternyata masih banyak diragukan dan belum banyak penelitian terkait hal tersebut.

Disamping klaim yang uwow, pun ada yang lebih membuat saya ingin menggelengkan kepala. Yap, soal harganya yang nggak nanggung-nanggung. Sebenarnya bukan hal yang mengherankan sih, karena beberapa kali saya juga sudah pernah menemui iklan-iklan produk penunjang kesehatan ini sampai seharga tujuh digit.

Sehat berarti harus Mahal?

Menarik. Dari sebuah artikel yang pernah saya baca disini juga disini, saya menemukan bahwa ternyata presepsi kita terhadap makanan sehat memang dipengaruhi oleh harga. Presepsi yang menganggap bahwa makanan yang sehat mempunyai harga yang mahal, meski tidak ada bukti yang mendukung pandangan ini.

Studi terkait pandangan tersebut sudah diterbitkan dalam Journal of Consumer Researchdimana tujuan dari penelitian adalah untuk memahami lebih baik lagi teori awam atau lay theories dan hubungannya dengan biaya makanan sehat. For your information, lay theories ini adalah pandangan yang digunakan seseorang untuk memahami lingkungan sosial mereka, atau bisa dibilang pandangan yang dibentuk berdasarkan pengalaman semata. Coba deh, apakah kamu juga selama ini ternyata hanya mengandalkan teori yang sama?

Lebih menarik lagi, penelitian juga menemukan bahwa ternyata pesepsi kita terhadap makanan sehat juga didukung dari sesuatu yang tidak biasa/ tidak familiar seperti bahan yang baru (belum pernah kita dengar). Seperti yang dilakukan dalam penelitian ini adalah membandingkan pengunaan komposisi Vitamin A dan DHA (docosahexaenoic acid) yang sama-sama memiliki peranan penting terhadap kesehatan mata.

Dianggap familiar, kandungan komposisi vitamin A bisa dinilai tanpa harus melihat harga produknya. Adanya kandungan vitamin A dalam produk diketahui tidak mengubah presepsi akan pentingnya vitamin A dalam produk tersebut.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline