Lihat ke Halaman Asli

Latifah Maurinta

TERVERIFIKASI

Penulis Novel

Hal-hal Klise yang Selalu Ada dalam Novel "Marketable"

Diperbarui: 15 September 2019   06:15

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pixabay.com

Belakangan ini, Young Lady cantik suka membongkar-bongkar arsip lama. Khususnya arsip tentang novel milik sejumlah teman dari lingkup fandom yang sama. Novel-novel itu terbit tahun 2013-2014. Ceritanya, Young Lady ingin bernostalgia.

Ternyata sampai sekarang Young Lady cantik masih ingat jalan ceritanya dari awal sampai akhir. Dari pada membaca ulang, lebih baik baca saja reviewnya. Sambil menggigit bibir dengan perasaan ironis, Young Lady menemukan puluhan review di setiap novel. 

Padahal cerita novelnya mainstream dan temanya tak kalah basi. Mengapa novel-novel sejenis itu begitu digemari? Bahkan, Young Lady sampai bertanya-tanya dalam hati. Pesan moralnya ada nggak ya? Let me know kalau memang ada.

Beberapa novel yang mendapat puluhan review itu mengusung plot bergaya korean drama wannabe dan ftvable. Sangat, sangat klise. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan plot korean drama wannabe. 

Hanya saja, akan jadi sangat membosankan dan murahan bila terus-menerus diulang oleh penulis yang berbeda. To be honest, novel-novel bergaya k-drama wannabe itu minim pesan moral nan inspiratif. So, hal-hal klise apa saja yang selalu ada di novel marketable?

1. Cinta segitiga. Ini sangat, sangat mainstream. Kalaupun menulis romance, Young Lady sangat menghindari jenis konflik ini. Biasanya, satu orang wanita sangat cantik diperebutkan dua pria. Satu pria bad boy lengkap dengan segala sikapnya yang menyebalkan, satu lagi pria baik hati dan se-perfect malaikat. 

Membosankan, kan? Celakanya, plot seperti ini sering kali diulang-ulang. Biasanya, konflik cinta segitiga akan diakhiri dengan kemenangan dari si bad boy. Dialah yang akan memenangkan hati si wanita.

2. Benci jadi cinta. Hellooooo, apakah semua kisah cinta di dunia harus diawali dengan saling benci? Haruskah setiap cerita cinta bermula dari pertengkaran-pertengkaran tak bermutu? Bisakah lovestory dimulai dengan cara normal? Tidak perlulah benci dulu baru cinta. Plot rasa FTV ini banyak ditemui di novel-novel marketable yang dilirik major publisher.

3. Momen pertemuan dengan tabrakan. Sepasang gadis dan pemuda tabrakan di koridor, buku si gadis jatuh, lalu si pemuda membawakannya dengan senyum manis. Sepasang pria dan wanita bertabrakan di depan lift, minuman tumpah ke baju, dan mereka marah-marah serta saling menyalahkan. Aduh, klise sekali. Young Lady yakin, yakin sekali. 

Di dunia nyata, momen tabrakan tidak akan membekas sedalam itu di ingatan. Young Lady malah ingin segera melupakannya kalau tak sengaja bertabrakan dengan orang lain. Apa bagusnya ditabrak dan menabrak orang saat berjalan?

4. Gadis miskin mencintai pemuda kaya. Rasanya bosan sekali membaca plot seperti ini. Terlalu mengada-ada dan tidak realistis. Bukankah burung lebih memilih terbang dengan sesamanya? Bukankah lebih nyaman menjalin cinta dengan seseorang dari kasta yang sama? 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline